Kamis, 28 Januari 2021

POLA MERUMAHKAN ABRI TAHUN 80 AN PERLU DITIRU OLEH TAPERA

Melihat perkembangan pola merumahkan MBR yang dilakukan pemerintah dengan Program Sejuta Rumah, penulis selalu ingat pola ABRI dalam merumahkan anggotanya di tahun 80 an.  Cara sederhana dan mengena.   Para Prajurit ABRI setiap bulannya dipotong gaji 10 % berdasarkan Kepres no 8 tahun 1977 dimana intinya :
1. Potongan 4,75 % untuk Dana Pensiun
2. Potongan 2% untuk Dana Kesehatan
3. Potongan 3,25 % untuk THTP (Tabungan Hari Tua dan Perumahan).
Potongan gaji 10 %, yang 8 % dikelola Asabri dan yang 2 % dikelola Askes.

Atas dasar tersebut, Pimpinan ABRI saat itu sudah memikirkan bagaiman para Prajurit bisa memiliki rumah setelah pensiun.   Dengan gaji saat itu masih kecil untuk ikuti aturan KPR dimana angsuran maksimum 1/3 Gaji, para Prajurit Gajinya tidak cukup untuk mengangsur KPR.   Oleh sebab itu melalui Asabri, para prajurit dipinjami Uang Muka untuk KPR besarannya sekitar 50 % Harga Rumah.   Dengan ada pinjaman tersebut, 1/3 Gaji Prajurit bisa untuk mengangsur  KPR.   

Penulis ada pengalaman pola tersebut.  Tahun 1990 gaji Penulis sekitar 300 ribu, ikut KPR dimana harga rumah sekitar 13 juta.   Penulis diberi pinjaman uang muka sebesar 6,5 juta, sehingga yang diangsur hanya 6,5 juta dan angsuran tiap bulannya 98 ribu.   Namun namanya pinjaman, harus dikembalikan saat penulis pensiun.   Saat penulis Pensiun, dari potongan gaji 3,25 %, selama 33 tahun masa kerja, akumulasi iur 17 juta, namun penulis hanya terima 10,5 juta karena yang 6,5 juta untuk kembalikan pinjaman.  Pinjaman Uang Muka selama 15 tahun tanpa bunga.   Hal ini sangat menguntungkan Prajurit yang ambil KPR.

Dengan semakin meningkatnya gaji prajurit, sewaktu Penulis sebagai Ketua YKPP tahun 2006 sd 2009, yang menangani KPR untuk prajurit, ternyata Pinjaman Uang Muka tidak 50 % harga rumah, cukup 20 sd 30 % harga rumah.   Bahkan setelah Penulis lengser dari YKPP, mempunyai pemikiran tanpa dibantu pinjaman uang muka, para Prajurit sudah mampu mengangsur bila KPR.

Namun Penulis mempunyai pemikiran lain, bahwa kalau dikelola dengan baik ternyata Para Prajurit yang membayar iur setiap bulan, justru bisa mendapat rumah gratis.  Iuran tiap bulan itulah yang untuk mengangsur KPR.   Ide penulis tuangkan di Majalah Property & Bank pada tahun 2015 dengan judul Rumah Gratis Untuk PNS TNI POLRI.   Tulisan tersebut sampai saat ini masih bisa dibuka di google atau buka ini ,,https://www.propertynbank.com/rumah-gratis-untuk-pns-prajurit-tni-polri/.

Berkaitan dengan tahun 2021 BP Tapera mulai kiprahnya, tidak salahnya pola ABRI tahun 80 an ditiru.   Penulis bukan memaksakan ide untuk memberikan Rumah Gratis untuk Peserta Tapera, tapi pola itu bisa berlaku.   Bagi peserta Tapera yang berkeinginan mempunyai rumah, bisa pola itu dimanfaatkan.  Iur mereka bisa sebagai Angsuran.   Apabila peserta Tapera tidak menginginkan rumah, diakhir pengabdian akumulasi uang iur bisa dikembalikan.   Para Peserta Tapera apabila ikut sejak dilantik sebagai ASN, TNI POLRI maupun Karyawan Perusahaan berarti akan ikut lebih 30 tahun.    Iur selama 30 tahun cukup untuk membeli rumah.   Kenapa pola ini tidak dimanfaatkan atau dikembangkan kesana ? Taruhlah tidak bisa gratis sama sekali, tapi Tapera memberikan Pinjaman Uang Muka tanpa bunga, pola itu sangat meringankan Peserta yang berkeinginan punya rumah.

Semoga tulisan ini menggugah para Pejabat di BP Tapera, sehingga misi Tapera accomplish dan Peserta tidak merasa berat bila akan mengambil atau menginginkan rumah.   Kita tidak perlu malu  ikuti ide para pendahulu yang tujuannya mensejahterakan anggota atau dalam hal ini peserta Tapera.  (Disunting oleh Marsda TNI Purn Tumiyo SE / Mantan Ketua YKPP)

PROGRAM FLPP SUDAH WAKTUNYA DIEVALUASI

Program Subsidi Rumah, mulai tahun 2010 dikenal dengan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan).  Sebagai Pengamat maupun Pelaku Program Perumahan untuk MBR, penulis masih merasakan Program FLPP ini belum sepenuhnya memihak ke MBR.   Walaupun Penulis menangani Perumahan untuk MBR dalam hal ini untuk TNI POLRI hanya tahun 2006 sd 2009, melihat Program FLPP serasa ada sesuatu yang harus dievaluasi.

Kalau melihat Pagu Anggaran Subsidi Rumah ini dari tahun ke tahun kenaikan cukup signifikan.   Sebagai contoh tahun 2005 sd 2009 dalam 5 tahun sekitar 4,1 T, selanjutnya era SBY 2010 sd 2014 meningkat menjadi 16,24 T hampir 4 x lipat.   Kemudian era Jkw dari 2015 sd 2019 meningkat menjadi 27,6 T.   Bahkan era Jkw 2020 dan 2021 saja menyamai program 5 tahun sebelumnya yaitu sekitar 27,6 T.

Dari sudut Pagu Anggaran ada kenaikan yang signifikan, tetapi kalau melihat target, kenapa justru ada penurunan ? Hal ini lah menurut penulis perlu adanya evaluasi.   Sebagai contoh Program Subsidi 2005 sd 2009 dengan pagu 4,1 T terealisasi 562.926 unit.  Kemudian tahun 2010 sd 2014, Pagu meningkat 4 x lipat menjadi 16,24 T tapi terealisasi 361.107 unit terjadi penurunan 201.829 unit.   Selanjutnya tahun 2015 sd 2019 Pagu meningkat hampir 70 % sekitar 27.6 T dari 5 tahun sebelumnya tapi target terealisasi 224.439 unit atau menurun 136.668 unit.

Apalagi dibandingkan sebelum adanya FLPP, penurunan target sangat menyolok.   Melihat kejadian seperti inilah yang membuat penulis untuk evaluasi Program FLPP.   Kunci Program Subsidi Rumah itu adalah Pemerintah sebagai Penyandang Dana, kemudian Pengembang yang membangun Rumah serta Bank sebagai Penyalur Kredit.   Memang kiat meringankan bunga KPR menurun itu langkah Luar Biasa tetapi kalau dengan Pagu yang meningkat Target nya menurun, justru ini perlu dipertanyakan.  

Kenapa penulis terkesan ngotot untuk adakan evaluasi, karena punya pengalaman meng KPR kan Prajurit dengan Pola memberikan Pinjaman Uang Muka tanpa bunga.   Itu lebih melancarkan Program merumahkan Prajurit.   Ada beberapa saran dalam evaluasi ini diantaranya :

1. Pihak Pemerintah Kemenpupr atau PPDPP mengadakan pembahasan bersama mengevakuasi FLPP.

2. Dalam Pembahasan prinsip usaha memang tidak boleh dikesampingkan, tetapi karena ini untuk MPR ada unsur menolong.

3.  Pagu Anggaran FLPP yang cukup besar contoh Pagi FLPP 2021 sekitar 16,6 T target 157.500 unit berarti per unitnya sekitar 105 juta padahal harga rumah sekitar 150 juta , berarti Bank dapat dikatakan hanya menyiapkan 45 juta.  Bisa dirubah justru Pemerintah menyiapkan cukup 50 juta tapi Bank yang 100 juta, soal bunga KPR bisa dihitung kembali, tetapi MBR yang bisa KPR akan meningkat 2x lipat.

4. Namanya Subsidi Rumah, tentunya sedapat mungkin Subsidi itu tidak kembali, taruhlah Subsidi berupa pinjaman tanpa Bunga, itu akan meringankan MBR.

5. Bunga FLPP bisa  berubah dengan catatan Subsidi Rumah merupakan pinjaman tidak berbunga.

Semoga ide penulis ini bisa menjadi masukan untuk pola Subsidi Rumah kedepan (Penggagas Marsda TNI Purn Tumiyo SE / Mantan Ketua YKPP)

Jumat, 22 Januari 2021

NGUDOROSO 6 (TAMAT)

Sesuai dengan awal tulisan Ngudoroso (1), dari 2006 sampai 2020.   Penulis berusaha mengakhiri dengan Ngudoroso (6).  Kebetulan di awal 2020 ada berita heboh dengan adanya Mega Korupsi di Asabri.   Bagaimana tidak Mega Korupsi, awalnya oleh Menkopolhukam disebutkan adanya penyalahgunaan Dana Asabri sebesar 10 T, ternyata malah sekitar 17 T.   Sebetulnya begitu ada berita ada kasus di Asabri, awal 2020, penulis sudah menulis dengan judul Dana Asabri Kembali  Bobol.  Tulisan bisa dibuka di http://tumiyohaji.blogspot.com/2020/01/dana-asabri-kembali-bobol.html

Sejenak melihat penjelasan gambar, tahun 2006 Aset Asabri sekitar 5,4 T, kemudian di annual report 2017 sekitar Aset Asabri sekitar 44,8 T.  Selama 14 tahun Aset Asabri meningkat dari 5,4 T menjadi 44,8 T itu kinerja Luar Biasa.  Meningkat  melebihi standart yang ditentukan oleh KemenBUMN.  Namun kalau kita melihat data dari Asabri akhir tahun 2019, Aset Asabri tercatat 26,5 T.   Terjadi suatu keanehan, di tahun 2017 sesuai dalam annual report Aset Asabri sebesar 44,8 T namun di akhir 2019 tercatat 26,5 T berarti ada selisih sekitar 18 T.  

Annual report BUMN itu bisa dibuka oleh siapapun, bahkan tinggal buka google dan tulis annual report yang diinginkan, akan muncul secara otomatis.  Kalau sejenak membuka Annual Report Asabri tahun 2014, disana peningkatan Aset dari tahun 2006 terlihat wajar wajar saja.   Tercatat Aset Asabri tahun 2011 sebesar 8 T, tahun 2012 meningkat menjadi 8,9 T, tahun 2013 meningkat menjadi 9,5 T dan tahun 2014 menjadi 11,9 T.   Kemudian kalau buka Annual Report 2017, tercatat Aset Asabri 2015 menjadi 32,3 T, tahun 2016 menjadi 36,5 T dan tahun 2017 sebesar 44,8 T.  Dalam 3 tahun dari 2015 sampai 2017 ada Peningkatan Aset yang fantastis.

Kenapa Aset Asabri  tahun 2015 menjadi 32,3 T dari Aset Asabri tahun 2014 sebesar 11,9 T ? Ada kenaikan 300 % tidak ada Pejabat yang peduli ? Bahkan Aset Asabri tahun 2019 sesuai data dari Asabri sendiri tinggal 26,5 T juga tidak ada Pejabat yang beraksi ? Sesuai Peraturan Pemerintah yang mengatur Asabri, Menhan adalah Regulator Asabri atau Menteri Teknis Asabri.  Komisarisnya dijabat oleh Irjen/Sekjen Dephan/Kemhan apa tidak pernah adakan evaluasi ?

Menurut penulis, Kasus Asabri ditangani oleh Jaksa Agung, merupakan pukulan berat terhadap Dephan, TNI maupun Polri.   Kalau dulu kasus Asabri yang terjadi tahun 1995, bisa dituntaskan oleh Dephan di tahun 2005.   Kenapa sekarang ditangani oleh Jaksa Agung ? Apa ini bagian skenario bahwa Asabri dan Taspen harus bergabung ke BPJS Tenaga Kerja ? Karena dalam UU no 24 tahun 2011 tentang BPJS Tenaga Kerja, disebutkan bahwa Asabri harus bergabung dengan BPJS Tenaga Kerja paling lambat tahun 2029.  

Ini sekedar Ngudoroso dalam 6 tulisan, semoga ada Purnawirawan yang masih mempunyai pengaruh untuk mengevaluasi YKPP dan Asabri.  Karena Asabri dan YKPP Tupoksinya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota TNI dan Polri serta para pensiunan nya (Tamat)





Kamis, 21 Januari 2021

NGUDOROSO (5)

MODAL YKPP DARIMANA ASALNYA.    Ngodoroso seri 5 masih berkaitan dengan Asabri maupun YKPP.   Sengaja penulis buat berseri, kali ada yang tertarik dan mau adakan evaluasi mencari Kebenaran.  Era Now terlihat yang ada bukan Kebenaran tapi Pembenaran.   Berubahnya YKPP menjadi YPPSDP sudah melalui proses sesuai UU Yayasan ? Sudah melibatkan Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf Angkatan ? Tentunya yang bisa menjelaskan Pengurus YPPSDP.

Sengaja judul Ngudoroso kali ini MODAL YKPP DARI MANA ASALNYA ? Dalam gambar di awal ada SEJARAH SINGKAT YKPP, ada PENGELOLAAN DANA ada POLA DASAR PENGELOLAAN DANA PENSIUN.  Sejarah Singkat YKPP diambil dari YKPP, Pengelolaan Dana dan Pola Dasar Pengelolaan diambil dari Asabri.   

Dari Sejarah Cikal Bakal YKPP adalah Proyek Pengelola BUM KPR, didirikan berdasar SKEPMENHANKAN No 38/M/I/1984.   Proyek Pengelola BUM KPR operasinya dibawah Asabri.    Dari Buku Asabri 2006 dijelaskan  Dananya diambil dari Hasil Investasi Dana Pensiun (Potongan Gaji 4,75 %).  Penjelasan selanjutnya Dana itu sebagai modal dan potongan mulai   dari 1984 sd 31 Juli 1998 dan dalam Buku YKPP modal SD 1998 terjatat 820 M.

Berpindahnya Pengelolaan BUM KPR tepatnya pada tahun 1998, setelah berjalan 14 tahun.   Selama 14 tahun dikelola Asabri, mulai 1998 dikelo dibawah langsung Dephankam, berdasarkan Kepmenhankam no 2/II/1998.  Awalnya bernama BPKPP (Badan Pengelola Kesejahteraan Perumahan Prajurit) baru tahun 2000 berubah menjadi YKPP (Yayasan Kesejahteraan Perumahan Prajurit).

Sebetulnya masalah penanganan BUM KPR berpindah dari Asabri ke YKPP, karena adanya penyalah guna Dana Asbri sebesar 410 M yang terjadi tahun 1995, dan baru ketahuan saat Krisis tahun 1998.   Penulis berani menyampaikan  adanya kasus tersebut, karena Dana 410 M dibukukan di YKPP sebagai Piutang.   Kebetulan penulis yang selesaikan kasus tersebut di tahun 2005.   Setelah menyelesaikan kasus tersebut penulis diangkat sebagai Ketua YKPP periode 2006 sd 2009.

Didepan dalam topik ngudoroso kali ini dengan judul MODAL YKPP  DARI MANA ASALNYA ? Dari penjelasan terutama Buku  Asabri 2006, Modal YKPP adalah sebagian hasil Pengembangan Dana Pensiun dari 1984 sd 31 Juli 1998.  Seperti dalam gambar diatas Hasil Pengembangan atau investasi Dana Pensiun adalah untuk :

1. Kontribusi ke Depkeu
2. Operasional Pembayaran Pensiun
3. BUM KPR
4. Bantuan Gugur/Tewas Operasi Seroja
Disini terlihat jelas Modal dasar YKPP adalah dari Hasil Investasi Dana Pensiun  tahun 1984 sd 1998.  Dana Pensiun adalah potongan Gaji 4,75 %.  Dapat dikatakan itu milik para Prajurit sebelum 1998. 

Bentuk organisasi itu selalu disesuaikan dengan perkembangan jaman.  Pengelolaan BUM KPR pun berubah ubah, didirikan tahun 1984, dikelola Asabri.   Tahun 1998 dikelola Dephankam.  Tahun 2008 YKPP berubah menjadi Lakgiat Perumahan, Tupoksinya tetap kelola BUM KPR.   Begitu tahun 2020 berubah menjadi YPPSDP terlihat Tupoksinya bukan masalah Perumahan lagi.   (Bersambung)

Selasa, 19 Januari 2021

NGUDOROSO (4)

Kali ini Penulis akan ngudoroso perjalanan dari 2006 sampai dengan 2020, terutama saat mulai terbongkar kembali kasus Asabri yang merugikan sekitar 17 T.    Sebelum lanjut ngudoroso, penulis mau jelaskan gambar dalam judul.  Gambar kuning adalah Laporan buku YKPP 2005 sd 2009.  Gambar Hijau adalah Laporan Asabri 2006 dan gambar biru adalah Laporan Asabri 2019.  Penulis membiasakan menganalisa dengan Data Yang Valid.

Penulis yakin para Pejabat maupun para Purnawiran mayoritas tidak paham sejarah Asabri maupun YKPP.   Asabri dan YKPP menurut penulis tidak bisa dipisahkan.  Terutama kalau baca buku yang hijau terbitan 2006 tentang Penyelenggaraan Program Asabri.   Disana dijelaskan tentang sejarah Asabri dan YKPP, dimana Dana atau Modal YKPP itu diambil dari hasil investasi Dana Pensiun dari 1984 sd Juli 1998.   Tercatat Modal awal YKPP sebesar 820 M.   Kemudian dalam buku Coklat Laporan Buku YKPP sd akhir Desember 2008 Aset YKPP sekitar 1,5 T.

Kenapa Asabri dengan YKPP tidak bisa dipisahkan ? Karena prajurit TNI POLRI yang KPR dengan BUM dari YKPP, pengembaliannya harus melalui Asabri.   Perhitungannya bagi Prajurit yang KPR, saat pensiun santunannya dipotong BUM yang pernah diterima.   Potongan itu oleh Asabri diserahkan ke YKPP.  

Dari pengalaman penulis tahun 1990 mengambil KPR dari Proyek KPR Asabri dapat BUM 6,5 juta.   Saat Pensiun seharusnya terima 17 juta, namun penulis hanya terima 10,5 juta, karena yang 6,5 juta untuk kembalikan BUM.   Oleh sebab itu penulis sampaikan Asabri dan YKPP tidak bisa dipisahkan.  Itulah kehebatan YKPP, memberikan Pinjaman Uang Muka selama bertahun tahun tanpa bunga.

Sayang sekali YKPP yang sangat membantu para Prajurit TNI POLRI dalam KPR, sejak penulis lengser, kinerjanya semakin menurun.   Tahun 2008, dana untuk BUM sekitar 189 M, menurun terus dan tahun 2017 hanya sekitar 9 M.  Bahkan mulai 2018 sudah tidak mampu memberikan BUM untuk Prajurit yang akan KPR.  Dan ternyata YKPP sudah berubah Tupoksinya bukan lagi kelola Perumahan, dan namanya sudah berubah menjadi YPPSDP (Yayasan Pengembangan Potensi Sumberdaya Pertahanan). (Bersambung)


Senin, 18 Januari 2021

NGUDOROSO (3)

Mungkin masih banyak yang asing melihat simbul yang berwarna merah.   Itu adalah simbul aplikasi Palapa  untuk komunikasi di dunia maya tidak jauh beda dengan WA.  Aplikasi lama seperti WA, Telegram, Line namun yang tenar adalah WA.   Akhir akhir ini muncul Signal, Bip dan yang konon produk anak bangsa adalah Palapa.  

Dari semua aplikasi baru seperti Signal n Bip, penulis sudah install semua namun peminatnya masih sepi.   Untuk Palapa juga sudah install, caranya tidak jauh dengan WA, dan operasinya hampir sama.  Penulis mencoba untuk kalangan alumni Lemhannas KSA X, namun juga baru 5 orang yang bergabung.  Maklum sudah umur semua, sedikit kesulitan untuk install.

Kalau melihat aplikasi komunikasi, dapat dikatakan semua produk asing.   Apalagi Signal ini ternyata penemunya juga yang menemukan WA.  Satu satunya produk lokal adalah Palapa (cerita Mbah Google).   Aplikasi Palapa ini diciptakan oleh Gildas Deograt Lumy, konon asli Indonesia cuma kalau melihat nama seperti asing.   

Penulis suka ngudoroso, kenapa anak bangsa yang tidak kalah dengan orang asing tidak mendapat perhatian ? Era SBY penemu motor listrik adalah anak dari Padang bernama Ricky Elson, namun penemuannya dipatenkan oleh Jepang.   Ricky Elson sempat mau kembali ke Indonesia atas prakarsa MenBUMN Bapak DI, tapi begitu Bapak DI lengser, Ricky Elson kembali ke Jepang.  Karena pak DI tidak mampu gaji lagi.  Saat Ricky Elson di Indonesia semua Gaji MenBUMN untuk Ricky Elson.

Saat KTT APEC di Bali 2013 Ricky Elson menyiapkan Bus Listrik dan sempat digunakan oleh para delegasi.  Kalau kita buka link ini https://finance.detik.com/industri/d-2137599/hatta-ktt-apec-di-bali-semuanya-pakai-mobil-dan-bus-listrik, dijelaskan oleh Bapak Hatta Rajasa, semua delegasi pakai mobil listrik.   Kenapa proyek mobil listrik berhenti ? Ujungnya pasti masalah politik.

Bagaimana nasib Palapa ? Akan mampukah ambil alih aplikasi komunikasi di Indonesia ? Dari pengalaman apapun sepertinya kok berat.  Apa kita sudah terlanjur ketakutan dengan para cukong ? Yah namanya ngudoroso, atau menyampaikan uneg uneg, mudah mudahan tidak dilarang.   Tetapi orang mimpi ketemu Rasul konon diproses, Mbak You meramal juga katanya mau diproses.   Jangan jangan ngudoroso juga diproses ? ( Ngudoroso 3)

WAG CESSNA 401/402


Sebagai adm group dan yang membuat WAG PILOT CESSNA 401/402, tentunya mengharapkan WAG ini tetap mengudara.  ÀMungkin satu satunya WAG yang membernya lintas angkatan dan lintas satuan ya hanya WAG PILOT CESSNA 401/402.   Penulis sendiri menerbangkan 10 jenis pesawat, tapi yang ada WAG untuk jenis pesawat ya hanya WAG PILOT CESSNA 401/402. Ada juga WAG Hercy tapi itupun karena ada 2 Skadron yang mengoperasikan pesawat yang sama, mungkin sekarang ada 3 Skuadron.   Sebagai Pilot Dakota, penulis merasa belum melihat ada WAG PILOT DAKOTA.

Bersyukur WAG PILOT CESSNA 401/402 tiap hari selalu mengudara, bahkan selalu didahului dengan tahajud.  Penulis mengamati setiap WAG itu yang posting rata rata 20 % dari jumlah membernya.   Di WAG PILOT CESSNA pun demikian.   Sekedar kilas balik tentang WAG PILOT CESSNA 401/402, ada cerita yang membanggakan.   Sekitar akhir bulan Juli 2017, Kasau (Cessna 129) dalam suatu media, menyampaikan rencana mengisi Museum Dirgantara dengan Pesawat Cessna 401/402.   

Dalam berita tersebut, sekalian ada design logo yang ditempel di Pesawat ada logo Skadron 17, Skadron 2 dan Skadron 4.  Penulis merasa ikuti perjalanan Pesawat Cessna sejak di Skadron 17 sampai Skadron 4, rasanya tidak pernah melalui Skadron 2.   Penulis langsung lapor kepada Kasau bahwa Pesawat Cessna 401/402 tidak pernah menjadi kekuatan Skadron 2.  

Akhirnya malah penulis mendapat tugas untuk menelusuri.   Saat itu penulis hanya mengajak adik adik dari Skadron 4 untuk menindaklanjuti perintah lesan Kasau.   Karena penulis merasa mantan Komandan Skadron 4, yang penulis ajak diskusi para mantan Komandan Skadron 4.  Tentunya termasuk Mantan Komandan Skadron 4 yang paling senior (Cessna 40) serta Cessna 67, Cessna 72, Cessna 85 dan Cessna 134.   Dari hasil diskusi perlu melibatkan seluruh mantan Pilot Cessna 401/402 dan untuk mempermudah diskusi dibentuklah WAG PILOT CESSNA 401/402 tepatnya mulai 5 September 2017.

Setelah adanya WAG PILOT CESSNA 401/402 akhirnya persiapan terbentuk Panitia Persiapan Penyerahan Pesawat 401/402 yang khusus oleh para Mantan Pilot Pesawat 401/402, diluar panintia dari TNI AU.  Akhirnya timbul ide membuat monumen yang mencantumkan nama nama Pilotnya.   Dengan adanya WAG tersebut, semua proses hanya by order di WAG maupun by telepon.  Sebetulnya untuk membuat Monumen perlu biasa cukup besar, sekitar 50 juta, namun Alhamdulillah biaya ditanggung adik adik IDP yang masih terbang diluar.  Ada arahan dari senior (Cessna 46) untuk menelusuri sejarah pesawat Cessna ada Surat Perintah dari Kasau untuk pertanggungan jawab.   Alhamdulillah akhirnya keluar Surat Tugas no : Shad/29/XII/2017 Tanggal 4 Desember 2017.  Dan akhirnya logo yang dipasang di pesawat Cessna 401/402 yang masuk museum hanya logo Skadron 17 dan Skadron 4.

Mungkin ada yang bertanya tanya kok ada Cessna Number ?  Kenapa penulis membuat Cessna Number, tujuannya sekedar  untuk membuat kebanggaan dan mudah mengingat ingat.   Dasarnya adalah seperti yang di Monumen.   Ini juga hanya ide, dan inilah urutannya :

1. Cessna 1 Basas Suyono
2. Cessna 2 Mudjono
3. Cessna 3 Suwarta
4. Cessna 4 Wage Mulyono
5. Cessna 5 Gendroyono
6. Cessna 6 Djoko Sasetiyo
7. Cessna 7 Subardi
8. Cessna 8 AR Legoh
9. Cessna 9 Aris 
10. Cessna 10 Gardjito Bismo
11. Cessna 11 Abdul Muluk
12. Cessna 12 Amir Hasyim
13. Cessna 13 Chris Sukardjono
14. Cessna 14 Daniel Boroh
15. Cessna 15 Dicky Pangau
16. Cessna 16 Iut Wiandra
17. Cessna 17 Mas Susilo
18. Cessna 18 Mursidi
19. Cessna 19 Pandu Mardanus
20. Cessna 20 Subagyo
21. Cessna 21 Suhiyar
22. Cessna 22 Suyatno
23. Cessna 23 Amin Kahar
24. Cessna 24 Eko Budiono
25. Cessna 25 Safril Dauli
26. Cessna 26 Soeharjanto
27. Cessna 27 Jerry BS
28. Cessna 28 Azhari
29. Cessna 29 Bae Yudha
30. Cessna Endang Rusmana
31. Cessna 31 Djulikin 
32. Cessna 32 Kawal Tarigan
33. Cessna 33 Koko Koswara
34. Cessna 34 Djatmiko
35. Cessna 35 Gde Sudana
36. Cessna 36 Hari Priyadi
37. Cessna 37 Haryono
38. Cessna 38 Purwo Caroko
39. Cessna 39 Sudiro
40. Cessna 40 Suharso
41. Cessna 41 Suharsono
42. Cessna 42 Yogaswara
43. Cessna 43 Indrianto
44. Cessna 44 Chairuddin
45. Cessna 45 Ferry Abadi
46. Cessna 46 Ian Santosa P
47. Cessna 47 Djarot Edidono
48. Cessna 48 Wirasno
49. Cessna 49 Koesnadi
50. Cessna 50 Mulyanto
51. Cessna 51 Sodik Sukarno
52. Cessna 52 Tatit Samiadji
53. Cessna 53 KS Waluyo
54. Cessna 54 Prasetyo Kiswadi
55. Cessna 55 Sumardjan BS
56. Cessna 56 Tumiyo
57. Cessna 57 Indrajays Zein 
58. Cessna 58 Mardjono
59. Cessna 59 Iwan Didi
60. Cessna 60 Budi Laksono
61. Cessna 61 Djunaedi
62. Cessna 62 Haryanto
63. Cessna 63 I Wayan Suwitra
64. Cessna 64 Ngadiman
65. Cessna 65 Sunarto
66. Cessna 67 Sonce
67. Cessna 67 Yushan Sayuti
68. Cessna 68 Setyo Haryono
69. Cessna 69 Benyamin
70. Cessna 70 Sasongko
71. Cessna 71 Sru Astjaryo
72. Cessna 72 Tony Susanto
73. Cessna 73 A Sulaksono
74. Cessna 74 Boy Syahril
75. Cessna 75 Chaerudin Ray
76. Cessna 76 Ilyanus Sanusi
77. Cessna 77 Agus Barnas
78. Cessna 78 MZ Djamhari
79. Cessna 79 Ida Bagus Anom
80. Cessna 80 Wibowo Islah
81. Cessna 81 Edy Purwanto
82. Cessna 82 Bambang Sugeng
83. Cessna 83 Yohanes Yusuf
84. Cessna 84 Kusmayadi
85. Cessna 85 Sudipo Handoyo
86. Cessna 86 Yadi Husyadi
87. Cessna 87 Hermuntarsih
88. Cessna 88 Sulastri Bakso
89. Cessna 89 Agus Dwi Putranto
90. Cessna 90 B Widjarnako
91. Cessna 91 Choirul Arifin
92. Cessna 92 Dedy Nita Komara
93. Cessna 93 Moch Nurullah
94. Cessna 94 Rachmad Kusnanto
95. Cessna 95 Supriyanto Basuki
96. Cessna 96 Warsono
97. Cessna 97 Almatheus Eko H
98. Cessna 98 Anwar Haryanto
99. Cessna 99 Bambang Hermanto
100. Cessna 100 Budi Wiryawan 
101. Cessna 101 Darmansyah
102. Cessna 102 Decky Tjahyana
103. Cessna 103 Djantun
104. Cessna 104 Djuhana
105. Cessna 105 Eko Priambodo
106. Cessna 106 Handi Dewanto
107. Cessna 107 Kustriawan
108. Cessna 108 Nurhadi
109. Cessna 109 Oto Sigit Budianto
110. Cessna 110 Rachman Latief
111. Cessna 111 Rizal Ali
112. Cessna 112 Sutrisno
113. Cessna 113 Agung Kuncoro
114. Cessna 114 Agus Sudarya
115. Cessna 115 Anastasia Sumadi
116. Cessna 116 Bambang Suwarto
117. Cessna 117 Jimmy Kalebos
118. Cessna 118 Rachman Haryadi
119. Cessna 119 Tata Hendrataka
120. Cessna 120 Gatot Purwanto
121. Cessna 121 Hery Irsal
122. Cesnna 122 Hendrika Aries
123. Cessna 123 Inana Musilimah
124. Cessna 124 Ratih Kusuma
125. Cessna 125 Andre Moelya
126. Cessna 126 Dwi Aprias S
127. Cessna 127 Pengkuh Hardjo
128. Cessna 128 Wirawan
129. Cessna 129 Hadi Tjahjanto
130. Cessna 130 Syamsu Maizar
131. Cessna 131 AM Junico
132. Cessna 132 Ivan Sandi
133. Cessna 133 Sarianto HS
134. Cessna 134 Ismet Saleh
135. Cessna 136 I Nyoman Trisantosa
136. Cessna 136 Gustaf Brugman
137. Cessna 137 Eliyanto
138. Cessna 138 Hesly Paat

Dari 138 Cessna Number, yang tertua Angkatan 60 dan yang termuda Angkatan 89.  Bersyukur Pilot Cessna bisa mencapai karier puncak di TNI, yaitu Cessna 129, mudah mudahan beliau sempat  membaca Blog Resmi Penulis, suatu saat kalau sudah tidak ada Covid 19 bisa bereuni bersama Pilot Cessna 401/402.   Ini hanya ide atau gagasan penulis, yang sejak awal membuat monumen Pilot Cessna 401/402 bekerja tanpa Surat Perintah, namun hasilnya tidak mengecewakan.  Sebetulnya kunci keberhasilan saat mempersiapkan Monumen Pilot Cessna 401/402 koordinator di lapangan adalah Cessna 85 dan koordinator pengumpulan dana Cessna 127.   Terima kasih Cessna 85 dan Cessna 127, atas jerih payahmu terwujud monumen Pilot Cessna 401/402. Semoga akan menjadi kenangan dalam kehidupan para Pilot Cessna 401/402.   Aamiin (Disunting oleh Cessna 56/awal 2021)