Rabu, 23 September 2020

TRANSPARANSI BP TAPERA AWAL YANG BAGUS.

Membaca berita di Kompas.com dengan judul Data Bapertarum PNS Telah Dialihkan ke BP Tapera, tanggal 23 September 2020, menunjukkan keseriusan BP Tapera sesuai janjinya bahwa akan mulai operasi Januari 2021.   Langkah ini tidak lepas dari acara Webinar tanggal 26 Juni 2020 dengan tema Ngopi Sore Bareng Jurnalis, Mau Dibawa Kemana Tapera ?  Webinar saat itu menampilkan para Nara Sumber dari Kementerian PUPR, BP Tapera, PPDPP, Bank Penyalur Kredit, Para Pengembang maupun beberapa Pengamat termasuk Penulis.  Webinar dipandu Pemimpin Redaksi Majalah Property&Bank Ir Indra Utama serta mantan Ketum DPP REI Soelaeman Siemawinata.

Penanggap pada umumnya para Pengembang maupun Pengamat, selain ada rasa optimis juga ada yang pesimis.  Apalagi BP Tapera ini ibarat metamorphose  dari Bapertarum dan PPDPP.   BP Tapera akan mengelola Dana yang cukup besar, dengan Modal awal sekitar 2,5 T dari Pemerintah, dari PPDPP yang saat Webinar sekitar 51,24 T dan dari Bapertarum sekitar 12 T.   Para penanggap pada umumnya menginginkan BP Tapera transparan  dalam kelola Dananya, termasuk  Dana Bapertarum yang notabene  milik PNS.  Apalagi nantinya akan mengelola seluruh Dana dari Pekerja yang ada di Indonesia termasuk Pegawai Pemerintah (ASN, TNI POLRI).

Langkah langkah BP Tapera yang semakin terbuka ini pasti akan disambut positif para calon pesertanya.  Sebagai contoh pada tanggal 11 September 2020,  ada pernyataan dari BP Tapera yang menyatakan BP Tapera Bakal Kembalikan Dana Taperum ke PNS.   Dimana untuk ASN Aktif akan dibukakan rekening sebagai saldo aktif awal Peserta BP Tapera.   Pengembalian ini akan disampaikan juga kepada  yang sudah pensiun maupun yang sudah meninggal kepada ahli warisnya. 

Sebagai peserta BP Tapera akan diberikan Buku Rekening, ini langkah luar biasa, sehingga Peserta tahu persis berapa dana yang mereka iur.  Berbeda yang berjalan selama ini, pada umumnya mereka tidak tahu berapa pastinya dana yang mereka iur, karena dipotong gaji secara otomatis.  Pola BP Tapera yang akan berikan buku Rekening, merupakan langkah baru dan lebih transparan.  Langkah ini perlu ditiru Taspen maupun Asabri, karena baik peserta Taspen maupun Asabri pada umumnya juga tidak tahu berapa iur mereka.

Mengingat BP Tapera akan menangani pengelolaan Dana dari seluruh pekerja yang terdiri dari kalangan swasta maupun negeri yang jumlahnya ratusan juta, keterbukaan atau transfaransi akan pegang peranan pokok.   Selain transparan, tidak kalah pentingnya kejujuran dan keteladanan bagi para pengelolanya.   Pengalaman pengelolaan Jiwasraya, Asabri maupun pengelola dana lainnya yang mengalami kegagalan bisa  untuk pelajaran karena BP Tapera.   BP Tapera  adalah  Badan   Pengelola Dana yang terbesar di Indonesia.   Semoga tujuan utama BP Tapera untuk memenuhi kebutuhan harkat hidup warga negara dibidang papan, berjalan lancar dan terwujud ,, Aamiin (Penulis Marsda TNI Purn Tumiyo)

 




Minggu, 20 September 2020

PERPRES NO 82 TAHUN 2020 AKAN MENYADI SAPU JAGAD COVID 19 ?

Apabila kita buka situs tentang Kepres No 7 Tahun  2020, akan muncul tulisan diubah dengan Kepres no 9 Tahun  2020 dan selanjutnya dicabut dengan Perpres no 82 Tahun 2020.  Dalam menangani Covid 19 ini Pemerintah sangat luar biasa, tanggal 2 Maret 2020 untuk pertama kalinya ditemukan penderita di Indonesia, tanggal 13 Maret 2020 dikeluarkan Kepres no 7 Tahun 2020.  Kepres baru berjalan seminggu Kepres No 7 Tahun 2020 direvisi dengan Kepres No 9 Tahun 2020 tepatnya tanggal 20 Maret 2020.   Ternyata Kepres No 9 Tahun 2020 bukan hanya direvisi namun dicabut dengan Perpres No 82 Tahun 2020 tepatnya tanggal 20 Juli 2020.   

Sebagai masyarakat biasa melihat aturan dalam menangani Covid 19 yang belum reda, sepertinya berubah ubah dimana dalam 4 bulan mengalami perubahan 3x.  Aturan pertama,  dibawah Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, disebutkan sebagai Pengarah bersama Menko bidang Politik, Hukum dan Keamanan.  Dalam Aturan Kedua  ada sedikit perubahan dalam Struktur Organisasi dimana Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai Ketua ada Wakil, Sekretaris dan Anggota.   Dalam Kepres No 7 Tahun 2020 hanya ada 4 Menko dan Menteri, di Kepres No 9 Tahun 2020 ada 21 Menko dan Menteri, sedangkan Pelaksananya tetap dengan Ketua Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.  Sedangkan dalam Aturan Ketiga ada perubahan total dimana sebelumnya berupa Kepres, dalam aturan ketiga berupa Perpres No 82 Tahun 2020.

Penulis sengaja mengambil judul  Perpres  No 82 Tahun 2020 Sebagai Sapu Jagad Dalam Tangani Covid 19 ? Karena kalau sebelumnya hanya ada 2 Menko yang terlibat, namun dalam Perpres ini seluruh Menko dilibatkan.   Kalau sebelumnya Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai Ketua sekarang dipegang oleh Menko Perekonomian.  Termasuk Ketua Pelaksana diganti oleh Menteri BUMN.

Yang menarik dalam Perpres No 82 Tahun 2020 ini, secara tersurat jumlah Menko dan Menteri semakin kecil hanya 8 Pejabat, jauh  dibawah Kepres No 9 Tahun 2020 ada 21 Pejabat.  Sebelumnya ada 19 Menteri yang terlibat saat ini hanya ada 4 Menteri, apakah yang 15 Menteri dinilai tidak mampu ? Tentunya hanya Presiden yang bisa menjawab.  Yang menarik dalam pelaksanaan Perpres ini beberapa hari yang lalu tepatnya dari Kompas.com 17 September 2020, Jkw menunjuk Menko bidang Maritim dan Investasi untuk menangani Covid 19 di 9 Provinsi Prioritas.  Penunjukkan ini pasti mengundang pertanyaan, apakah Ketua Komite Penanganan Covid 19 maupun Ketua Pelaksana tidak mampu melaksanakan tugas ? Kenapa bukan Menko Perekonomian sebagai Ketua yang menunjuk untuk menangani Covid 19 di 9 daerah tersebut ? Kenapa bukan Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang menangani langsung masalah Kesehatan ? 

Akhirnya timbul polemik, Menko bidang Maritim ini sebagai Menko serba bisa, kebetulan pernah sebagai Menkopolhukam, bahkan investasi yang semula dibawah Menko Perekonomian ditariknya, kemudian sekarang masalah kesehatan ditangani.  Lengkaplah sudah semua bidang ditangani.   Akan dipersiapkan menjadi Presiden 2024 ? Kemungkinan itu selalu terbuka, semoga Penugasan yang baru diemban itu berhasil apalagi hanya diberi waktu 10 hari,... Aamiin 


Kamis, 10 September 2020

DIKALA PANDEMI CORONA, KINERJA PPDPP LUAR BIASA

Membaca KOMPAS.com tanggal 5 September 2020, sebagai pengamat perumahan cukup kaget membaca kolom komentar  dengan judul Per 4 September, Subsidi Rumah Tembus Rp 8,8 Triliun.  Prestasi luar biasa untuk PPDPP di tahun 2020 disaat Pandemi Covid 19, dimana instansi lain untuk penyerapan Anggaran masih dibawah 50 %, untuk PPDPP bisa mencapai sekitar  84,8 %.  Dibanding tahun lalu pencapaian prestasi ini tergolong luar biasa, karena tahun lalu dalam kurun waktu yang sama hanya bisa capai sekitar 70 %.

Target PPDPP tahun 2020 adalah 102.500 unit dari pagu Anggaran 11 T.  Sampai dengan 4 September 2020 serapan PPDPP mencapai 86.928 unit dari dana 8.8 T.   Selanjutnya sampai saat ini total penyaluran FLPP dari 2010 sd 2020 atau selama 10 tahun mencapai sekitar 53,21 T.  Dari dana tersebut telah terbangun 744.530 unit rumah.   

Di era Pemerintahan Jkw dari akhir 4th p2014  atau mulai TA 2015 pagu Subsidi Rumah melalui FLPP ada peningkatan signifikan.   Era SBY selama 5 tahun pagu FLPP sekitar 18,72 T realisasi sekitar 361.105 unit, di era Jkw selama ini pagu sekitar 34,49 T realisasi sekitar 383.415 unit.   Penulis sering menyampaikan kenapa pagu FLPP semakin meningkat tapi serapan atau realisasi justru menurun ? Memang kenaikan harga tidak bisa dipungkiri, namun tentunya bisa diperkirakan sejauh mana pengaruhnya.   Tahun 2010 sd 2014 besaran Subsidi Rumah rata rata sekitar 51,8 juta/unit, era Jkw sekitar 90 juta/unit. 

Kebetulan tahun 2021 BP Tapera akan mulai beroperasi, dimana fungsi PPDPP nantinya akan diambil alih oleh BP Tapera.   Menurut penulis, saat ini waktu yang tepat untuk evaluasi.   Diharapkan BP Tapera akan lebih optimal dalam kinerjanya.   Akan semakin banyak MBR yang bisa dirumahkan.   Prestasi PPDPP dalam Pandemi Corona bisa menyerap Progam melebihi situasi biasa, perlu dicermati.   

Penulis sebagai Pengamat, yang kebetulan mempunyai pengalaman sebagai Pelaksana Program KPR untuk Prajurit TNI POLRI hanya prihatin, kenapa Pagu Anggaran FLPP yang hampir 2x lipat, tetapi serapan targetnya justru menurun. Semoga  prestasi PPDPP tahun  ini  bisa ditiru instansi lain terutama yang menggunakan APBN.   Disaat pandemi penyerapan di bulan September mencapai sekitar 88 %, ini capaian yang luar biasa.  Padahal instansi lain pada umumnya jauh dibawahnya.  Apa rahasianya ? Tentunya PPDPP yang bisa menjawab.

Jumat, 04 September 2020

PEGAWAI SWASTA DAPAT SUBSIDI GAJI, SISWA GURU MAHASISWA DAN DOSEN DAPAT SUBSIDI PULSA, VETERAN, PENSIUNAN DAPAT APA ?

Minggu ketiga Agustus tepatnya tanggal  21 Agustus 2020, dalam  Blog Resmi Pribadi menulis dengan judul  Balada Subsidi Gaji Pekerja.    Diakhir bulan Agustus, penulis kaget membaca Kepmenkeu no 394/2020 yang terbit tanggal 31 Agustus 2020.  Dalam Keputusan tersebut pemerintah memberikan paket data dan komunikasi kepada Pejabat ANS sebagai berikut :

1. Pejabat Eselon I dan II sebesar Rp 400.000,-
2. Pejabat Eselon III sebesar Rp 200.000,-

Selain memberikan paket data dan komunikasi kepada ASN, pemerintah juga memberikan paket untuk Siswa, Guru, Mahasiswa dan dosen sebagai berikut :

1. Untuk Siswa atau Pelajar mendapat subsidi kuota sebesar 35 GB setiap bulan.
2. Untuk Guru sebesar 42 GB setiap bulan.
3. Untuk Mahasiswa dan Dosen masing masing dapat subsidi 50 GB setiap bulan.

Kebijakan pemerintah dalam hadapi dampak Covid 19 memang perlu diapresiasi, namun kadang seperti kurang bisa diterima.   Awalnya ada subsidi gaji untuk para pekerja swasta yang terdaftar di BPJS Tenaga Kerja yang  gajinya dibawah 5 juta.  Pertanyaannya bagaimana para MBR yang penghasilannya dibawah 2 juta bahkan ada yang dibawah 1 juta ? Pertanyaan belum terjawab muncul subsidi pulsa untuk pelajar, guru, mahasiwa, dan dosen.   

Subsidi pulsa ini lebih banyak mengundang pertanyaan yang beredar.   Subsidi pulsa ini ada batasan sperti Subsidi Gaji Pekerja ? Pelajar dan Mahasiswa anak orang kaya juga dapat Subsidi ? Rasanya tidak adil kalau pelajar atau mahasiswa mendapat subsidi.  Satu sisi bagaimana nasib para rakyat yang hidup di garis kemiskinan ?

Sebagai pensiunan yang gajinya dibawah 5 juta, bahkan ada yang dibawah 2 jta, hanya prihatin melihat kebijakan pemerintah saat ini.   Apalagi juga sebagai Veteran, melihat Veteran Perang Kemerdekaan yang masih hidup tunjangan Veterannya hanya sekitar 1,8 juta, tidak sampai melihat kehidupannya.   Tidak sedikit mereka hidup jauh dari layak.  

Saat Hari Veteran Nasional tanggal 10 Agustus 2020, ada beberapa Pejabat yang masih peduli, seperti Gubenur Jateng mendatangi rumah Veteran yang ternyata tidak bersertifikat.   Akhirnya Gubernur menyanggupi untuk mensertifikatkan.   Semoga setelah Pekerja mendapat Subsidi Gaji, Pelajar dan Mahasiswa dapat Subsidi Pusla, para Pensiunan dan Veteran maupun MBR  dapat perhatian dari Pemerintah.  Aamiin (Marsda TNI Purn Tumiyo)


Senin, 31 Agustus 2020

PENGALAMAN MENYAKSIKAN PRODUK ANAK BANGSA

Tanggal 16 Agustus 2020 saya adakan Zoom Meeting dengan member WAG Keluarga Besar Walet Famile.   Walet Family  adalah wadah keluarga besar Skadron Udara 4 dimana saya salah satu komandannya.   Saat ini saya mantan Komandan yang tertua.   Masalah kebersamaan saya tanamkan sejak di Skadron, bahkan yang membuat WAG saya sendiri tepatnya sejak 28 Januari 2015.

Menjelang perayaan 17 Agustus 2020, saya menawarkan untuk Zoom Meeting sekedar bersilahturahmi.   Kebetulan ada mantan anak buah yang saat ini masih aktif terbang diluar menawarkan topik Zoom Meeting mengenai mencegah Corona dengan meningkatkan imun tubuh.   Bahkan ada Nara Sumber yang sukarela berbagi pengalaman.   Namanya dikenal dengan Pang David (bukan Pak), seorang inovator salah satu produk Herbal.

Tanggal 14 Agustus 2020 saya tawarkan Zoom Meeting, kebetulan saya berlangganan Zoom, disepakati tanggal 16 Agustus 2020 jam 20.00 dilaksanakan.   Sebetulnya pemberitahuan hanya 2 hari terlalu mepet.   Alhamdulillah Zoom Meeting berjalan tepat waktu bahkan ada peserta  dari Luar Negeri yang saat ini sebagai Athan.  Peserta Zoom Meeting tidak terlalu banyak, namun saat diskusi cukup ramai semua pada nanggapi.

Acara pokok memang mendengarkan penjelasan Pak Pang David dengan topik meningkatkan imunitas dalam hadapi Corona.  Produk Pang David masalah imun ini berupa NZPRO 22 dan NZPRO 99.   Bagi yang sehat minum NZPRO 22 dan NZPRO 99 konon bisa meningkatkan Imunitas .   NZPRO 22 dan NZPRO 99 sudah terjual bebas dan sudah tercatat Dinkes dengan kode LPPOM 011211994117 dengan harga 150 ribu/botol 15 ml.   Bahkan dalam penjelasannya bagi pasien Corona minum secara teratur 4 hari berturut turut setelah Swap dinyatakan begatif.

Pang David ternyata tidak sebatas memproduksi untuk meningkatkan imun, tetapi juga dengan penemuannya menciptakan produk untuk Pertanian dan Peternakan.  Dalam pertanian padi budidaya nya bisa hasilkan beras yang berkualitas tinggi, sama dengan beras yang berasal dari Jepang.   Di bidang peternakan, Pang David bisa menciptakan telur bebek tidak amis, bahkan kandang bebek tidak bau.  Demikian juga dalam ternak ikan, ikan hasil ternaknya, digoreng tanpa bumbu terasa gurih, bahkan digoreng bersama sisiknya.   Ikan hanya dikeluarin kotorannya, dicuci langsung digoreng  tanpa dibuang sisiknya.

Setelah Zoom Meeting, tanggal 30 Agustus 2020 Pak Pang David mengundang ke Kebun Taman Makmur yang dikelola di Kebon Percobaan Muara Bogor.  Saya hadir ke kebun Pak Pang David dimana dalam kebun tersebut ada pengembangan pertanian padi dan ternak ikan maupun ternak bebek.   Acara diselenggarakan  disamping kandang bebek sekitar 300 ekor dan kolam ikan.   Berada disamping kandang bebek tapi tidak terasa bau, bahkan telur bebek dipecah juga tidak berbau amis.   Termasuk hasil mancing ikan, langsung digoreng  tanpa bumbu juga terasa gurih.   Ikan hanya dibuang kotorannya, dicuci dan sisik tidak dibuang langsung digoreng tanpa bumbu.   Semua yang hadir merasakan telur tidak amis, kandang bebek tidak bau dan ikang goreng tanpa dibersihin sisiknya terasa lebih enak.

Ini sekedar berbagi hasil melihat karya anak bangsa, ternyata tidak kalah dengan produksi luar.  Tinggal bagaimana untuk dibina dan dikembangkan.  Taman Makmur yang dikelola Pak Pang David ini setiap hari buka dan pendatang bisa menikmati telur dan ikan serta roti canay,  tentunya tidak gratis.  Harga telur bebek mentah 2.500 perbutir dan yang telur asin 4.000 perbutir, rasanya dalam batas harga wajar.  Kelebihannya tidak amis dan tidak bau, bahkan ikannya terasa  lebih gurih.


ZOOM MEETING PERDANA DI KALANGAN WALET

Sebagai mantan Komandan Walet yang tertua, saya selalu menjalin kebersamaan yang sejak awal saya gelorakan pada Keluarga Besar (Kelbes) Walet.  Bagi pembaca diluar Kelbes Walet mungkin akan bertanya tanya apa itu Walet ? Walet adalah panggilan untuk anggota Skadron Udara 4 yang berada di Lanud Abd Saleh Malang.   Begitu maraknya pola WA, saya langsung membuat WAG Walet Family tepatnya tgl 28 Januari 2015.  Alhamdulillah WAG tetap semarak sampai detik ini.

Dengan adanya Pandemi Corona yg di Indonesia baru dirasakan 2 Maret 2020, ternyata ada sisi lain yang membuat banyak inovatif dalam kehidupan.  Dulu video conference hanya untuk kalangan tertentu, sekarang  Work From Home, belajar dari rumah sudah merupakan kebutuhan.   Termasuk seminar seminar tidak ada lagi yang dengan tatap langsung, namun  dengan media maya yang dikenal  Webinar.  

Walau sudah tergolong sepuh saya tidak berhenti mengajak Kelbes Walet untuk bisa ikuti perkembangan IT.   Saya yakin generasi muda Kelbes Walet sudah ikuti Daring Zoom ini bersama yang sebaya, namun untuk Kelbes Walet acara Zoom perdana baru terlaksana tanggal 16 Agustus 2020 yang lalu.  Saya ambil Minggu malam ternyata hanya sekitar 13 orang yang mau bergabung.  Memang masing masing sibuk dengan kegiatannya, namun Alhamdulillah para mantan Komandan Skadron 4 justru banyak yang gabung, bahkan ada peserta yg dari luar negeri.

Saya terbiasa setiap habis subuhan buka HP, dan WAG Walet Family selalu tidak ketinggalan.  Tanggal 14 Agustus 2020, sekitar jam 05.00 saya tawarkan untuk Zoom Meeting, dengan Topik bebas utamanya silahturahmi.   Jam 08.30 an ada tanggapan dari Pak Sarianto, dan mengusulkan dengan topik meningkatkan imunitas dikala pandemi Corona.   Disepakati tanggal 16 Agustus 2020 jam 20.00, dan ada Nara Sumber dari luar Inovator tentang meningkatkan imunitas oleh Pak Pang David.

Bagi saya ini peluang luar biasa ada Nara Sumber  gratisan sanggup berbagi pengalaman dalam hadapi Corona.  Mungkin karena waktu yang mepet cuma 2 hari, pesertanya sedikit, padahal menurut saya topiknya sangat tepat disaat pandemi Corona.   Pak Pang David sesuai prinsip hidupnya menceritakan tentang Hidup Berbagi (Hiber), dengan tulus ikhlas berbagi tentang hadapi corona untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Dari pengalamannya ternyata dengan meningkatkan imunitas bisa terhindar dari Corona.  Beliau pengalaman selama 24 tahun mengadakan penelitian dan memproduksi herbal yang bisa meningkatkan imun yaitu NZPRO22 dan NZPRO99.  Selain meningkatkan imunitas ternyata dari penelitiannya NZPRO 22 dan NZPRO 99 bisa membuat penderita Corona menjadi sehat.  Setelah konsumsi NZPRO 22 dan NZPRO 99 selama 4 hari berturut turut penderita Corona bisa bebas dari Corona.  NZPRO 22 dan NZPRO 99 sudah terjual bebas dan harganya perbotol isi 15 ml 150 ribu.   

Ternyata selain NZPRO 22 dan NZPRO 99, Pak Pang David juga memproduksi NZPRO untuk peternakan maupun pertanian.  Selama ini saya banyak baca tentang herbal, vaksin atau obat untuk atasi Corona, kalau lainnya hanya berdasar berita dari media kali ini dari sumber langsung.   Makanya begitu Pak Sarianto sampaikan info bahwa tanggal 30 Agustus 2020 Pak Pang David mengundang untuk ke kebunnya di Bogor tempat praktek bertani n berternak saya langsung siap untuk hadir.

Apa yang disampaikan saat sebagai Nara Sumber waktu Zoom Meeting terbukti.  Di Taman  Makmur yang dikelola Pak Pang David,  dikawasan Kebun Percobaan Muara Bogor,  Pak Pang David kembangkan Pertanian dan Peternakan.  Yang bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, adalah hasil ternak bebek , dimana telurnya tidak berbau amis dan kandang bebek untuk sekitar 300 bebek juga tidak bau. Selain telur bebek, hasil ternak ikan, ikan nila yang digoreng tanpa bumbu rasanya lebih gurih.  Ikan cuma dikeluarkan kotorannya dicuci bersih dan tetap bersisik langsung digoreng tanpa bumbu, dimakan dengan sambal, terasa lebih nikmat.

Maaf ini sekedar sharing pengalaman tentang pengenalan produk anak bangsa yang tidak kalah dengan produk luar.   Silahkan datang ke Taman Makmur di Bogor, dimana selalu bukan untuk berbagi setiap hari Sabtu dan Minggu. Bukan berati gratis tapi bisa menikmati hasil ternak bebek maupun ikan di kebun tersebut.




Jumat, 28 Agustus 2020

MENGENANG JENDRAL SUDIRMAN

SUDIRMAN : SANG JENDRAL BESAR
Selamat jalan Jendaral

Hari ini, Ahad pagi, 29 Januari 1950
Titip anak anak...Tolong aku dibimbing tahlil....
Ucapan terakhir Panglima Besar Soedirman.... kepada sang Istri.
Berjalan tertatih-tatih, Letnan Jenderal Soedirman memasuki rumah dinasnya di jalan Bintaran Wetan, Yogyakarta. Di depan pintu, sang istri, Siti Alfiah, menyambutnya. Soedirman pulang setelah dua pekan meninggalkan istri dan enam anaknya untuk memimpin operasi penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Madiun, Jawa Timur. Malam itu, akhir September 1948, di kediamannya yang kini menjadi Museum Sasmitaloka, Soedirman terlihat ringkih. Kepada istrinya, dia mengeluh tak bisa tidur selama di Madiun.
Soedirman rupanya begitu terpukul menyaksikan pertumpahan darah yang terjadi antara rakyat Indonesia itu. Peristiwa Madiun membuat batin Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia itu nelangsa.
Selain kelelahan berat, Soedirman tertekan batinnya karena peristiwa itu. Malam itu, kendati kondisi kesehatannya turun, Soedirman tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar ia mandi air hangat tak diindahkan. Dan inilah awal petaka bagi Soedirman. Esoknya, Soedirman terkapar di tempat tidur.
Ketika ulang tahun tentara tiba, 5 Oktober 1948, Soedirman yang masih sakit, mengunjungi Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Di sana ia melakukan tabur bunga ke pusara anggota tentara korban pemberontakan PKI Madiun. Sepulang dari tabur bunga, kesehatannya memburuk. Kendati ia sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa dihilangkan. Sesekali, sembari terbaring, dia menghisap rokok kretek. Istrinya tak berani melarang. Karena tahu Soedirman memang perokok berat.
Karena Soedirman tak kunjung pulih, maka diutuslah sejumlah dokter tentara memeriksa kesehatannya. Tim dokter muda itu mendiagnosis ia menderita tuberkolosis, infeksi paru-paru. Keluarga Soedirman meminta dua dokter senior, Asikin Wijayakusuma dan Sim Ki Ay, melakukan pemeriksaan dua dokter tersebut tak jauh beda dengan pendahulunya. Atas saran Asikin, Soedirman dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
Soegiri, bekas ajudan Soedirman, menulis bagaimana saat sang Jenderal dirawat di rumah sakit Katolik itu. Soedirman dirawat di kamar 8 Bangsal Maria, yang terdapat di bagian depan. Soedirman terkena pulmonary tuberculosis. Penyakit itu diketahui Soegiri dari dokter yang merawat Soedirman. Menurut Soegiri, obat yang dibutuhkan Soedirman hanya ada di Jakarta. Kalaupun sampai di Yogyakarta, obat itu harus melalui jalur penyelundupan. Karena Jakarta, saat itu dikuasai oleh tentara sekutu.
Karena Soedirman butuh pengamanan cepat, tim dokter memutuskan melakukan operasi untuk menyelamatkannya dengan cara membuat satu paru-parunya tak berfungsi. Komplikasinya, kata Soegiri, memang sudah sedemikian rupa, sehingga membuat dokter menempuh cara tersebut. Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernafasan. Adapun ibunya dibertahu dokterperihal operasi itu. Dan sejak itu Soedirman bernafas dengan separuh paru-parunya.
Setelah operasi, Soedirman diminta beristirahat lebih lama. Ia juga dilarang keras merokok. Menurut Soegiri, ketika hari jadi ke-25 rumah sakit itu, Soedirman khusus menulis sajak sebagai kado ulang tahun. Sajak lima alinea itu berjudul “ 25 Tahun Rumah Nan Bahagia”.
Isinya, ucapan terima kasih Soedirman karena mendapat perawatan yang baik selama disana. Tulisan asli sajak itu kini diletakkan di bawah monumen Jenderal Soedirman di area Panti Rapih. Monument itu tak jauh dari kamar Soedirman dirawat.
Sebulan melakukan pemulihan di rumah sakit, Soedirman pulang ke rumahnya di Bintaran. Ketika di rumah, Soedirman pernah beberapa kali tak bisa menahan hasrat ingin merokok. Perilaku ini, lagi-lagi, justru memperburuk kesehatannya. Soedirman pernah muntah darah. Pada 17 Desember 1948, keajaiban datang. Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat tidur. Sebelumnya, sepulang dari Panti Rapih, ia selalu terbaring di ranjang. Hari itu, kepada istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang, firasat sang Jenderal terbukti : Belanda membombardir Yogyakarta, yang saat itu Ibu Kota Indonesia. Ia pun memilih mengakhiri cutinya.
Dengan diusung tandu, hampir delapan bulan,Soedirman keluar masuk hutan memimpin gerilya dari luar Yogyakarta. Pernah suatu ketika ia  tidak  makan selama lima hari. Dengan perut kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di pacitan, Jawa Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Rika, suster yang merawat Soedirman, kala itu menulis pengalamannya saat bersama jenderal besar ini. Menurut dia, saat itu Soedirman dirawat dengan nama samaran : Abdullah Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat surat kabar yang naskahnya kini tersimpan juga di museum Sasmitaloka. Soedirman memakai nama samaran supaya keberadaannya tak diketahui Belanda.
Di Panti Rapih, Soedirman masih memimpin rapat kabinet bersama Presiden Soekarno membahas upaya mempertahankan kemerdekaan. Hanya dua pekan ia dirawat disana, setelah itu, Soedirman kembali ke rumah. Setelah Belanda bersedia melakukan gencatan senjata pada Oktober 1949, kesehatan Soedirman kian mencemaskan. Dokter meminta kembali ke Panti Rapih. Tapi ia memilih beristirahat di wisma tentara di Badakan, Magelang. Tapi tetirah sejuk dengan pemandangan Gunung Sumbing itu tak bisa membuat kesehatan Soedirman membaik. Tiga bulan disana, ia kerap muntah darah. Juga ditempat tidur. Dokter Husein dari Rumah Sakit Magelang bolak-balik memeriksa dan menungguinya. Dan saat itu, kondisi Soedirman tinggal tulang dan kulit saja.
Seolah-olah mendapat firasat hari kematiannya segera tiba, pada 18 Januari 1950, Soedirman meminta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Esok harinya, ia memanggil istri dan tujuh anaknya. Seperti kepada para petinggi tentara, ia juga memberi wejangan kepada istri dan anak-anaknya. Tak sepenuhnya pertemuan dengan keluarga diisi dengan wejangan. Soedirman juga sempat bergurau. Kepada keluarganya, misalnya, ia menyatakan sebenarnya ingin seperti Lurah Pakis, kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa meminang cucu.
Pada Ahad pagi, 29 Januari 1950, setelah lama terkulai lemas sejak Oktober di rumah peristirahatan tentara di Magelang, mendadak wajah Soedirman tampak cerah. Pagi itu, Ahmad Yani, Gatot Soebroto, serta beberapa petinggi militer dan sipil hadir.  tidak  diketahui apa yang dibicarakan.
"Waktu itu, menurut Ibu, tiba-tiba terdengar suara kaleng dan botol pecah mendadak. Bersamaan dengan itu, bendera di halaman melorot setengah tiang. Sampai Ibu bilang ke beberapa pengawal, ’Ah, itu hanya angin’."
Setelah salat magrib, sebagaimana didengar dari Alfiah, Soedirman memanggil istrinya ke kamar. Di dalam, dia berkata, "Bu, aku sudah  tidak  kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.” Alfiah menuntunnya mengucap Laa Ilaha Illallah, dan Soedirman mengembuskan napas terakhir disaksikan dan dalam dekapan istri tercinta...
DIGARHAYU INDONESIA 
M E R D E K A 
SELAMAT JALAN JENDRAL …… 
NKRI …… AKAN TETAP MENJADI …… NKRI
AL FATIHAH …….