Jumat, 31 Mei 2019

DUNIA PENERBANGAN DI INDONESIA PERLU KERJA EKSTRA

Akhir akhir ini dunia penerbangan di Indonesia terutama di Maskapai Penerbangan merasakan adanya penurunan jumlah penumpang.   Bahkan data dari Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Tahun 2019, betul betul mengherankan.   Dilansir oleh CNBC tanggal 29 Mei 2019, di H-7 Lebaran, jumlah kedatangan pesawat turun sekitar 70,03% dibanding tahun 2018.    Tahun 2018 sekitar 2.262 Penerbangan tahun ini baru 678 Penerbangan.  Sedangkan untuk jumlah Penumpang turun sekitar 79,59% dari sekitar 291.704 orang, menjadi  sekitar 59.543 orang.  
Untuk  keberangkatan turun sekitar 63,28 % atau dari 2.274 menjadi 836 Penerbangan.   Penumpangnya turun 73,18% dari 289.522 orang menjadi 77.643 orang.

Sebetulnya penurunan jumlah penerbangan maupun jumlah penumpang pesawat sudah dirasakan sejak akhir tahun 2018. Dari data yang dilansir Kompas.com 3 Januari 2019, jumlah penumpang domestik akhir tahun 2017 sekitar 3.787.218 penumpang, namun akhir 2018 hanya sekitar 3.278.453 penumpang.  Terjadi Penurunan yang cukup signifikan  sekitar 13 %.   Kalau diawal tulisan pada H -7 Lebaran penurunan sekitar 70 an %, ternyata secara total Penurunan saat Lebaran 2019 Penurunan juga lebih besar dari Liburan Natal dan Tahun Baru.  Dari berita CNDC Indonesia Lebaran 2019 ada penurunan sekitar 30,71 % atau Lebaran 2018 sekitar 1.732.023 Penumpang, tahun 2019 sekitar 1.200.180 Penumpang

Ada beberapa faktor kenapa animo penggunaan sarana penerbangan menurun diantaranya :

1. Keberhasilan pembangunan infrastruktur terutama jalan tol, sehingga pemudik menggunakan alternatif jalan darat khususnya di Jawa.

2. Mahalnya harga tiket pesawat, sehingga pemudik diluar Jawa menggunakan Kapal Laut.

3. Nilai rupiah yang menurun terhadap dollar, bertengger diatas Rp 14.000, menyebabkan dunia penerbangan mengalami kesulitan karena semua komponen pesawat dibeli dengan dollar.

Belakangan ini ada fenomena mendatangkan Maskapai Penerbangan Asing untuk menurunkan tiket pesawat terbang.     Betulkah dengan mendatangkan Maskapai Penerbangan Asing bisa menurunkan harga tiket ? Untuk menjawab pertanyaan ini tidak mudah, karena sebetulnya sudah ada Maskapai Asing yang beroperasi di Indonesia dan bisa menjelajahi Kota2 antar pulau yaitu Air Asia.  Memang secara administrasi Air Asia tercatat Maskapai Penerbangan Malaysia, namun fakta pesawat2nya dengan Register PK.   Dengan beroperasinya Air Asia ternyata juga tidak bisa menekan harga tiket pesawat menjadi murah.   Oleh sebab itu dengan mendatangkan Maskapai Penerbangan Asing belum menjamin bisa menurunkan harga tiket pesawat di Indonesia.

Selain beberapa faktor diatas, dengan mendatangkan   Maskapai Penerbangan Asing, bagaimana  dengan Asas Cobatage ? Asas Cabotage adalah aturan atau Regulasi Internasional yang melarang Maskapai Penerbangan Asing beroperasi di rute domestik sebuah negara.   Tentunya sebelum Pemerintah memutuskan memasukkan Maskapai Penerbangan Asing Masuk beroperasi di rute domestik harus dilakukan pengkajian yang mendalam.

Melihat perkembangan dunia penerbangan didalam negeri akhir akhir ini memang tidak boleh dianggap remeh. Menurunnya Animo Penumpang, termasuk melihat beberapa Bandara Baru yang baru diresmikan namun faktanya juga tidak sesuai yang diharapkan seperti Bandara Kertajati, Bandara Tasik Malaya dan  Bandara New Yogyakarta.  Tidak menutup kemungkinan akan terulang beberapa Maskapai Penerbangan akan menghadapi masa suram dan mungkin gulung tikar.   Untuk mengatasi hal hal tersebut perlu diambil langkah :

1. Pemerintah sebagai Pemegang Regulator dalam dunia penerbangan harus mengajak semua pemangku kepentingan dunia penerbangan untuk duduk bersama membahas Perkembangan dunia penerbangan yang mengalami penurunan maupun kemunduran.

2. Pemangku Kepentingan dunia penerbangan harus saling mendukung dan sinergi dalam menangani semua permasalahan, dan harus saling menyadari bahwa Negara Kepulauan Indonesia yang mempunyai sekitar 600 Bandara merupakan potensi yang luar biasa.

3.   Menghidupkan kembali Maskapai Penerbangan Perintis yang sudah lama tidak berkembang apalagi setelah bangkrutnya MNA.z

4. Mendukung sepenuhnya PTDI untuk Mei memproduksi lebih banyak Pesawat barunya N 219 untuk melayani penerbangan perintis

5. Dunia penerbangan adalah biaya tinggi, oleh sebab itu perlu ada Subsidi dari Pemerintah.   Subsidi bukan dalam arti hanya masalah pendanaan tetapi juga kemudahan dalam ijin maupun aturan lainnya.

6. Dalam dunia pendidikan tidak kalah pentingnya untuk menjadi perhatian karena  sebagai penyiap sumber daya manusia penerbangan tidak boleh kalah dengan negara lain.   Diusahakan untuk dihindari tenaga pilot, tehnisi, maupun untuk tenaga pengontrol lalu lintas udara mengandalkan tenaga dari luar.

Minggu, 12 Mei 2019

MBR ASN SUDAH TIDAK PERLU HUNIAN ?

Semenjak UU No 4/2016 tentang TAPERA disahkan, secara otomatis Bapertarum dilikuidasi.   Mulai  saat itu pula kebutuhan rumah untuk PNS/ASN terkesan statusquo. Padahal Bapertarum yang didirikan tahun 1994 berdasar Kepres No 46/1994, sesuai dengan namanya Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, mempunyai fungsi mulia, yaitu untuk memenuhi kebutuhan rumah untuk PNS/ASN.    Apalagi melihat  latar belakang didirikannya sebagai berikut :

1. Sebagai upaya meningkatkan Kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil untuk memenuhi rumah yang layak.

2. Terbatasnya kemampuan Pegawai Negeri Sipil untuk membayar uang muka pembelian rumah dengan dengan fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah atau KPR

3. Tabungan perumahan PNS dapat membentuk dana untuk mengatasi kendala tersebut, yang merupakan kegotong royongan 
diantara PNS dalam upaya peningkatan kesejahteraan.

Langkah langkah Bapertarum yang pernah dilakukan diantaranya :

1. Bantuan Membangun (BM), yaitu bantuan membangun bagi PNS yang membangun rumah di tanah sendiri dan besarannya sebagai berikut :

a. Untuk PNS Gol I sebesar Rp 1.200.000
b. Untuk PNS Gol II sebesar Rp 1.500.000
c. Untuk PNS Gol III sebesar Rp 1.800.000

2. Bantuan Uang Muka , bantuan ini merupakan pinjaman dengan bunga rendah, dengan besaran sebagai berikut :

a. Untuk PNS Gol I sebesar  Rp 13.800.000
b. Untuk PNS Gol II sebesar Rp 13.500.000
c. Untuk PNS Hol III sebesar Rp 13.300.000

UU TAPERA diundangkan tanggal 24 Maret 2016, sudah berjalan 3 tahun lebih, selama ini siapa yang memenuhi kebutuhan rumah bagi ASN ? Apakah para ASN tidak merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan rumah ? Berdasar pengamatan, MBR dari TNI POLRI maupun ASN mempunyai kesulitan yang tidak jauh beda.   Sambil menunggu berlakunya UU TAPERA, dikalangan TNI POLRI ada cara untuk memenuhi kebutuhan Rumah untuk Prajuritnya.   Disana selain YKPP (Yayasan Kesejahteraan Perumahan Prajurit) ada TWP.   TWP singkatan dari Tabungan Wajib Perumahan, ada di semua Matra baik dari TNI AD, TNI AL, TNI AU maupun POLRI.   

Sesuai telegram Panglima TNI No ST/108/2018 tanggal 30 Januari 2018 tentang Peningkatan Kesejahteraan Prajurit dan PNS TNI di bidang Perumahan, baik TNI AD, AL maupun AU berlomba untuk memberdayakan KPR TWP.   Di TNI AD siap membangun 10.000 unit rumah pertahun, AL sekitar 2.000 unit dan AU sekitar 1.000 unit.   Bahkan untuk TNI AU dalam Program tahun 2018 yang dimulai bulan April, menurunkan bunga KPR TWP yang semula 5 % menjadi cuma 3%.

Bagaimana dengan ASN yang semula ditangani Bapertarum ? Tidak kah membuat terobosan seperti TNI dan POLRI ? Mau menunggu BP TAPERA ? Dalam UU TAPERA dalam pasal 75 menyebutkan bahwa Komite TAPERA terbentuk 3 bulan setelah diundangkan dan Komisioner dan Deputy Komisioner BP TAPERA terbentuk 6 bulan setelah Komite TAPERA terbentuk.   Namun pada kenyataannya baru tanggal 29 Marezwo
t 2019,z Pengurus BP TAPERA baru dilantik Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakskwyatzmks😃.  

 Dari Komisioner BP TAPERA yang baru lama dilantik menyebutkan bahwa mulai 1 Januari 2020 BP TAPERA baru mulai beroperasi.   Semoga operasional BP TAPERA tidak mundur lagi, sehingga w para MBR ASN tdk terlalu lama merasa tidak mempunyai wadah untuk nendapat kemudahan dlm memenuhi kebutuhan di bidang perumahan .. Aamiin (Marsda Purn Tumiyo/pemerhati kebutuhan rumah MBR)





Senin, 22 April 2019

KEBIJAKAN ASABRI YANG PERLU DIKETAHUI PURNAWIRAN

Membaca Harian Rakyat Merdeka tanggal 22 April 2019 halaman 22, dikala mengamati berita Pemilu yang simpang siur, hati terasa menjadi bergairah.  Mengapa bergairah ? Karena PT ASABRI sebagai bagian dari BUMN, dalam rangka merayakan HUT ke 21 BUMN, membuat terobosan untuk meningkatkan Kesejahteraan pesertanya.   Langkah ini merupakan terobosan karena untuk pertama kalinya dilakukan oleh PT ASABRI, dimana para pemegang polisnya bahkan para Pensiunan juga diberi peluang yang tidak jauh berbeda.   Terobosan tersebut adalah Pinjaman  Polis ASABRI, bahkan dalam brosurnya disebutkan tanpa agunan, bunga ringan, syarat mudah dan sehari cair.

Penulis yakin informasi ini para peserta ASABRI yaitu para prajurit TNI maupun anggota POLRI yang masih aktif serta para ASN nya, apalagi para Pensiunan belum pada memahami.   Dalam ketentuan yang dimuat dalam harian tersebut, salah satu tujuan adanya Pinjaman Polis ASABRI adalah untuk membantu kesulitan peserta dan sebagai alternatif investasi dengan imbal jasa yang pasti.   Adapun ketentuan Pinjaman Polis sebagai berikut :

1. Maksimum 70% dari nilai manfaat yang diterima oleh peserta
2. Jasa pinjaman sebesar 11% dengan metode anuitas bagi Pensiunan dan 9% dengan metode flate rate bagi yang masih aktif
3. Besaran Angsuran setiap bulan maksimum 70% dari Uang Pensiun
4. Biaya administrasi Rp 100.000,-
5. Jangka Waktu Angsuran paling lama 36 bulan
6. Belum memiliki pinjaman PUM ASABRI/BUM YKPP/Mitra Bank

Besaran pinjaman untuk Pensiunan dari Rp 3.000.000,- sd Rp 12.000.000,- dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Mengisi formulir pengajuan pinjaman polis
2. Foto copy KTPA
3. Foto copy Skep Pensiun Warakawuri/Janda/Duda
4. Foto copy Buku Tabungan halaman depan
5. Foto copy Kartu Keluarga/KK
6. Mengisi Surat Kuasa Pemotongan Rekening Pinjaman 

Untuk Pemegang Polis ASABRI atau Peserta yang aktif dari TNI POLRI besaran pinjaman dari Rp 18.000.000,- sd Rp 38.000.000,- sedangkan untuk ASN Rp 10.000.000,- sd Rp 33.000.000,- dengan syarat sebagai berikut :

1. Memiliki masa dinas minimum 3 tahun sebelum pensiun 
2. Mengisi formulir pengajuan pinjaman polis
3. Foto copy KTPA
4. Foto copy Tabungan halaman depan
5. Foto copy Kartu Keluarga (KK)
6. Mengisi Surat Kuasa Pemoyongan THT

Ada 7 Langkah Pinjaman Polis tersebut yaitu 

1. Calon Pinpol (Pinjaman Polis) menyiapkan berkas
2. Penerimaan berkas
3. Verifikasi Berkas dan memenuhi syarat
4. Kakancab Approve dan menyiapkan daftar nominatif 
5. Penyaluran dana di Kanpus
6. Transfer dari Bank
7. Selesai

Terobosan ini tergolong luar biasa, karena para pemegang Polis ASABRI dapat memanfaatkan dana yang mereka iur.   Para pemegang Polis ASABRI yang mayoritas adalah para Bintara dan Tamtama maupun ASN gol bawah, di saat tertentu pasti mengalami kesulitan dalam pembiayaan.   Terutama saat anak mau masuk sekolah, sangat memerlukan biaya, terobosan ini pasti dirasakan sangat membantu.  Semoga kebijakan ini tidak sekedar info yang menyegarkan namun segera terwujud dan bisa dinikmati oleh para Purnawirawan yang memerlukan ,, Aamin (Tumiyo Marsda TNI Purn) 


Minggu, 07 April 2019

KAMPANYE AKBAR RELIGIUS PRABOWO DI GBK DIAWALI OLEH SANDI DI GUNUNG KIDUL

Tanggal 5 April 2019, merupakan Kampanye Terbuka Paslon 02 didaerah DIY yang dilakukan Sandi dan dipilihlah  Gunung Kidul sebagai tempatnya.   Tempat yang dipilih Lapangan Demang Wonopawiro di Desa Piyaman masih dalam kecamatan Wonosari.  Wonosari adalah ibukota Kabupaten Gunung Kidul.   Sangat disayangkan tidak ada pengerahan masa dari luar Gunung Kidul oleh Tim Pemenangan Prabowo Sandi DIY.   Penulis sebagai Ketua Kordapil XI/DIY dari PPIR akhirnya kerahkan PPIR dari Bantul, Kulon Progo, Sleman dan Kota Yogyakarta 

Ternyata dipilihnya Lapangan Demang Wonopawiro ada sejarahnya.  Konon Demang Wonopawiro, sosok tokoh yang gagah berani melaksanakan perintah Raja Sultan Yogyakarta saat itu.   Demang Damar nama kecil Wonopawiro satu satunya punggawa Kraton yang sanggup babat alas Gunung Sewu yang terkenal angker.   Singkat cerita atas keberhasilan babat alas di Gunung Sewu, Demsng Wonopawiro akan dianugerahi sebagai Bupsti Gunung Kidul untuk Pertama Kalinya.   Namun Demang Wonopawiro menolak karena tahu diri bahwa dirinya tidak bisa baca tulis.   Demang hanya inginkan anak turunnya bisa menikmati hasil jerih payahnya.

Luar biasa panitia Kampanye mempersiapkan Paslon 02 yang diwakili Sandi menyapa Gunung Kidul.   Penulis sebagai simpatisan Paslon 02, bisa dibilang Relawan dari Purnawirawan,  melihat sendiri persiapan Panitia yang bekerja keras demi suksesnya acara.   Ketua Pemenangan Prabowo Sandi di DIY adalah dari Partai Gerindra,  namun acara di Gunung Kidul hanya dipandegani dari Partai PAN dan para sukarelawan.  Sayang Ketua Tim Pemenangan Pemenangan  Prabowo Sandi DIY tidak kerahkan masa partai koalisi untuk ikut hadir di acara Sandi menyapa Gunung Kidul.   Melihat situasi seperti ini, penulis sebagai Ketua Kordapil XI/DIY dari PPIR, mengerahkan PPIR Bantul, Kulon Progo, Sleman dan Kota Yogyakarta untuk berangkat ke Gunung Kidul membantu PPIR Gunung Kidul.

Walau penulis tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan, karena merasa anak kelahiran Gumung Kidul, merasa terpanggil untuk menyukseskan acara tersebut.   Pada hari H -1 melihat Persiapan dan ikut arahkan tim Pengamanan terutama untuk Pengamanan Sandi.   Bahkan ikut menjemput Sandi di Bandara Adi Sucipto.   Pesawat Sandi mendarat tepat waktu dan langsung menuju ke Gunung Kidul.

Dalam perjalanan ke Gunung Kidul disambut hujan deras, penulis sempat khawatir ditempat acara juga hujan.  Namun pantauan melalui HP di tempat acara walau mendung tapi tidak hujan.   Di perjalanan sempat mampir di Rumah Makan Terrace Petruk.   Penulis satu meja dengan Ssndi menyampaikan sedikit gambaran tentang Gunung Kidul serta peserta kampanye kebanyakan santri.   Peserta dari Pondok Pesantren Al Hikmah Karangmojo dibawah pimpinan Ustadz yang relatif sepuh Bpk  Drs KH Harun Arrosiid. Sedangkan satunya dati Pondok Pesantren Darush Sholihin dari Panggang dibawah Pimpinan Ustadz Muda Muhammad Abduh Tuasikal, ST, MSc.

Sebagai putra daerah, mendapat info bahwa kedua pesantren akan kerahkan jemaahnya yang konon ribuan santri, penulis sempatkan datang ke Pesantren Darush Sholihin di Panggang.   Benar adanya Pondok Pessntren Darush Solihin yg jemaahnya selalu diatas 10.000 apabila Tabliq Akbar, siap ikut partisipasi dalam Acara Sandi menyapa Gunung Kidul.   Hal ini  menambah keyakinan Kampanye Sandi tidak sepi peserta.   Ada kekhawatiran tentang jumlah peserta karena saat Sandi Kampanye di Berbah bulan sebelumnya pesertanya hanya sekitar 3.000 an.   Alhamdulillah peserta Sandi Menyapa Gunung Kidul pesertanya cukup besar walau tidak ada dukungan pengerahan masa dari Tim Pemenangan Prabowo Sandi DIY.

Sesuai jadwal kedatangan Sandi jam 15.30, namun saat jam 14.59 Sandi sudah tiba di tempat acara.   Dari panggung Kampanye dikumandangkan adzan Ashar.   Sandi sempat terhenti sejenak begitu mendengar adzan Ashar, selanjutnya Sandi diarahkan untuk sholat Ashar berjamaah.   Penulis jadi ingat seperti sholat Id, dilapangan terbuka hanya beralaskan tikar.    Walaupun ditempat yang sederhana dan beralaskan tikar, sholat terlihat lebih khidmat.

Setelah sholat Ashar berjamaah Kampanya Sandi menyapa Gunung Kidul langsung dimulai dan diawal kampanye lain dari biasanya.   Diawali dengan doa yang dipimpin oleh Kyai Haji Harun Arrosiid, pimpinan Pondok Pesantren Al Hikmah.   Acara Sandi menyapa Gunung Kidul, dilanjutkan dengan orasi oleh Ibu Titik Soeharto dari Partai berkarya dilanjut dari Partai Koalisi ditutup oleh Sandi menyapa Gunung Kidul,

Mungkin karena peserta Kampanya mayoritas para santri, cuaca teduh walaupun mendung namun tidak hujan.   Model Kampanye saat Sandi menyapa Gunung Kidul, secara tidak langsung menjadi model kampanye kampanye berikutnya.   Kampanye Akbar Prabowo Sandi tanggal 7 April 2019, di Gelora Bung Karno juga diawali Sholat Shunuh berjamaah. Bahkan  Kampanya Prabowo tanggal 8 April 2019 juga diawali Sholat Dhuhur berjamaah.

Semoga Kampanye yang tinggal beberapa hari lagi ini selalu diawali atau diakhiri dengan sholat berjamaah, karena setiap kampanye pasti bertepatan dengan waktu sholat 5 waktu.   Kampanye Religius ini justru merupakan implementasi atau perwujudan serta pengamalan Sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.     Aamiin 



 


Minggu, 31 Maret 2019

MEMENUHI KEBUTUHAN RUMAH BAGI ASN dan ANGGOTA TNI POLRI

Membaca berita Property akhir bulan Maret 2019, menjadi ingat tulisan penulis yang dimuat Majalah Property&Bank awal 2015.   Tulisan berjudul “Rumah Gratis untuk PNS TNI POLRI”.  Tulisan tersebut sebenarnya untuk mendukung Program Sejuta Rumah Jkw.   Namun sepertinya kurang mendapat sambutan, padahal apabila state holder dlm bidang perumahan mau melihat atau membuka sejarah, ide tersebut bukan hal yang sulit.

Mari kita buka kembali Kepres No 08/1977, dimana Kepres tersebut sebagai dasar para Pegawai Pemerintah baik PNS maupun ABRI setiap bulannya dipotong gaji 10 % dengan Rincian :

1. Potongan 4,75 % untuk Dana Pensiun
2. Potongan 2 % untuk Dana Kesehatan
3. Potongan 3,25 % untuk THTP (Tabungan Hari Tua dan Perumahan)

Potongan Gaji 10 % sampai detik ini masih berlaku belum ada perubahan.

Selain masalah Kepres tersebut diatas, marilah kita kilas balik, tentang 3 Pilar Pembangunan Perumahan Nasional.   Ketiga Pilar tersebut adalah Kementerian Perumahan, Perum Perumnas dan BTN.   Saat itu Kementerian Perumahan sebagai Regulator, Perum Perumnas yang didirikan tahun 1974 sebagai Pengembang dan BTN sebagai Bank Penyalur Kredit.   Hasil dari ketiga Pilar tersebut di tahun 80 sd 90 an, terlihat nyata dimana Perum Perumnas membangun Kawasan Perumahan maupun Rumah Susun.  Bahkan Kawasan Petumahan maupun Rusun yang dibangun Perum Perumnas, semula di pinggiran sekarang sudah menjadi Kota.  Contohnya tersebar di Depok, Jakarta, Palembang, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya maupun Makasar.

Masihkah ke 3 Pilar tersebut ? Jelas masih ada, disayangkan menurut penulis masing masing kedepankan egonya, melupakan sejarahnya.  Ketiga pilar tersebut berjalan sendiri sendiri, tidak bergandeng tangan lagi.   Padahal kebutuhan rumah untuk MBR masih jauh terpenuhi.   Terbukti Backlog rumah masih tinggi, walau data datanya selalu tidak sama.  Bahkan untuk ASN TNI POLRI saja masih tercatat membutuhkan Rumah sekitar 1.535.000 unit.   Kalau kebutuhan rumah kalangan ASN TNI POLRI saja sekitar 1,5 juta unit, berarti tidak  salah apabila Backlog Runah sekitar 15 juta unit.   Satu sisi Pola pemenuhan kebutuhan rumah untuk ASN dan Anggota TNI POLRI masih begitu begitu saja.   Masih soal Subsidi, Bantuan Uang Muka, berkembang Pola FLPP, serta  Aturan Harga Rumah.  Dari hasil Munas REI belum lama ini,  Aturan Resmi Hunian Bagi ASN, TNI POLRI diharapkan segera keluar  akhir April 2019.  Sebagai Penulis tetap di Majalah Property&Bank, sejak awal tahun 2012, pernah menulis dengan judul Mimpi Merumahkan MBR tanpa Subsidi, bahkan awal 2015 menulis dengan judul Rumah Gratis untuk PNS TNI POLRI.

Dalam kesempatan ini, penulis mengulang kembali konsep Memenuhi Kebutuhan Rumah untuk ASN TNI POLRI, bahkan Pemerintah tidak perlu anggarkan khusus untuk mereka.  Anggaran dari Pemerintah yang ada atau Pola FLPP bisa digunakan untuk MBR diluar ASN TNI POLRI.  Bagaimana Polanya ? Kalau dulu ada 3 Pilar Pembangunan Perumahan Nasional (Kementerian Perumahan, Perum Perumnas dan BTN) sekarang yang perlu dilibatkan selain 3 Pilar tersebut ditambah TASPEN dan ASABRI.   Kenapa TASAPEN dan ASABRI ? Karena kedua instansi tersebutlah yang kelola Potongan Gaji ASN dan TNI POLRI terutama Potongan 3,25 %.   Aset TASPEN dan ASABRI saat ini sudah cukup besar, sehingga sudah waktunya untuk memikirkan bagaimana pemegang polisnya bisa mempunyai rumah.   Para ASN dan Anggota TNI POLRI jangan dibebani untuk Angsuran  KPR atau KPA, tetapi TASPEN dan ASABRI lah yang mengangsur dan begitu mereka berumah tangga langsung bisa disiapin Rumah.   Pola tidak jauh dengan Pola tahun 80 sd 90 an, sekarang bukan hanya 3 Pilar tetapi 5 Pilar sebagai berikut :

1. Kementerian Bidang Perumahan tetap sebagai Regulator
2. Perum Perumnas sebagai Pengembang
3. BTN sebagai Bank Penyalur Kredit
4. TASPEN sebagai Pengangsur untuk ASN
5. ASABRI sebagai Pengangsur untuk anggota TNI POLRI

Dengan Pola ini ASN maupun Anngota TNI POLRI tidak dibebani Angsuran untuk KPR maupun KPA, karena mereka sudah dipotong gaji setiap bulan yang dikelola TASPEN dan ASABRI,   Semoga siapapun Presiden yang terpilih dalam Pilpres tahun ini, bisa menerapkan pola ini dan Penulis yakin Konsep ini menguntungkan semua pihak .. Aamiin  (Penulis Marsda TNI Purn Tumiyo mantan Ketua YKPP dan mantan Dewas Perum Perumnas)



Kamis, 14 Maret 2019

PRASASTI JEJAK SANG PENGINTAI CESSNA 401/402

Sebagai Pilot Pesawat Cessna 401/402, dan sebagai saksi sejarah yang pernah tugas di Skadron Udara 17 dimana pertama kali pesawat tersebut ditempatkan dan di Skadron Udara  4 sebagai tempat terakhir ditempatkan, merasa terpanggil untuk membuat tulisan supaya sejarah tidak terputus.   Sewaktu ada instruksi Kasau Marsekal Hadi Tjahyanto untuk menempatkan Pesawat Cessna 401/402 di Museum Dirgantara di Yogyakarta medio 2017, sebagai pilot pesawat tersebut saya ikut menyampaikan masukan kepada beliau.  Masukan saya sampaikan karena Kasau memberikan Konsep Logo Skadron di Pesawat ada 4 logo yaitu Logo Skadron Udara 17, Skadron Udara 2, Skadron Udara 4 lama dan Skadron Udara 4 baru.   

Sebagai pilot Pesawat Cessna 401/402 yang pernah di Skadron Udara 17 dan Skadron Udara 4, saya menyampaikan masukan bahwa pesawat tersebut tidak pernah ditempatkan di Skadron Udara 2.   Dari Skadron Udara 17 langsung ke Skadron Udara 4, kebetulan di detik detik perpindahan saya masih aktif menerbangkan pesawat tersebut, saat itu  pesawat tidak di parkir dalam hanggar Skadron Udara 17 lagi,  namun diparkir disamping Skadron Udara 2.   Dengan masukan ini akhirnya Kasau memberikan Surat Tugas untuk menelusuri Sejarah Pesawat 402/402 dengan Surat Tugas No Sgas/29/XII/2017.

Dalam Surat Tugas tersebut nama nama yang dicantumkan sebagai Nara  Sumber adalah :

1. Marsdya TNI Purn Ian Santosa Perdanakusuma
2. Marsda TNI Purn Djoko Sasetyo
3. Marsda TNI Purn Mulyanto
4. Marsda TNI Purn Tumiyo
5. Marsda TNI Purn Yushan Sayuti
6. Marsda TNI Purn Sru Ascaryo
7. Marsda TNI Purn Chaerudin Ray
8. Marsda TNI Purn Agus Barmas
9. Marsda TNI Purn Sudipo Handoyo
10. Marsma TNI Purn Gardjito Bismo
11. Marsma TNI Purn Soeharjanto
12. Marsma TNI Purn Suharso
13. Kpt Purn Ratih Kusuma
14. Kpt Purn Oto Sigit
15. Kpt Purn Pengkuh Hardjo
16. Kpt Purn Sariyanto

Dalam kesepakatan dari para sesepuh dan senior, saya ditunjuk sebagai koordinator pelaksanaan tugas untuk menelusuri sejarah tersebut.  Sebagai Prajurit walau sudah purnawirawan saya tidak bisa menolak kesepakatan tersebut, akhirnya saya membentuk tim kecil, itupun juga hanya komunikasi dengan WA.  Tentunya yang saya ajak dalam tim kecil para yunior namun selalu meminta restu kepada sesepuh dan senior, juga melalui komunikasi by WA.  Begitu ada restu dari Kassu saya langsung membuat WAG  yang berjalan sampai sekarang. 

Sebetulnya sambil  menunggu surat tugas, saya bersama tim kecil sudah menelusuri sejarah Pesawat Cessna 401/402. Dimulai cek dokumen ke Skadron Udara 2 serta menghubungi para Kadishar Skadron Udara  2 dari Angkatan 71 sd 76, smua menyatakan bahwa Pesawat tersebut tidak pernah menjadi kekuatan Skadron Udara 2.  Bahkan dari Tamtama  Titik Bekal Skadron Udara 17 yang menangani suku cadang Pesawat Cessna 401/402, yang  juga ikut pindah ke Skadron Udara 4, sejak awal titik bekal tidak dipindah ke Skadron Udara 2.  

Selain menelusuri sejarah Pesawat Cessna 401/402 , Tim Kecil mengusulkan adanya Prasasti yang memuat nama nama pilot yang menerbangkan pesawat tersebut.   Ide ini saya sampaikan kepada Kasau dan beliau langsung setuju .   Mungkin para sesepuh dan senior ada yang belum tahu siapa dibalik adanya Prasasti ini ? Marsda TNI Purn Sudipo Handoyo sebagai Pelaksana di Lapangan untuk Pembuatan Prasasti, dan Kpt Purn Pengku Hardjo sebagai Pelaksana Penggalang Dana.   Pembuatan Prasasti ini memerlukan Dana sekitar 50 juta berdasar proposal Pembuat Prasasti, karena Prasasti terbuat dari Perunggu dan memuat nama seluruh Pilot Cessna 401/402.  Dalam Prasasti memuat 139 Pilot dari Angkatsn 60 sampai dengan Angkatan 89. Prasasti ini merupakan satu2nya yang memuat nama nama pilot yang ada di Museum Dirgantara di Yogya.

Saya sebagai Ketua Panitia Kecil selalu melaporkan Perkembangan pembuatan Prasasti kepada Kasau, bahkan Kasau menyampaikan apabila kekurangan dana akan menutup.   Alhamdulillah atas kegigihan Kpt Purn Pengku Hardjo didukung adik adik yang terbang diluar, semua kebutuhan dana bisa dicukupi tanpa dukungan dari Kasau.  Yang membuat saya terharu , dari adik adik minta para sesepuh n senior tidak perlu memikirkan masalah dana.

Di saat Panitia kecil menyiapkan Prasasti dan sesuai petunjuk Kasau bahwa penyerahan Pesawat Cessna di akhir Desember 2017, tiba tiba ada instruksi akan dilaksanakan awal Desember 2017.   Terus terang Panitia Kecil kelabakan karena dari Pembuat Prasasti menyanggupi minggu ketiga Desember 2017 baru selesai.   Namun Marsda TNI Purn Sudipo Handoyo tidak kekurangan akal, minta kepada Pematung untuk membuat dumy Prasasti yg terbuat dari mika,  dibuat persis seperti dari tembaga.  Prasasti dari Mika bisa dicetak dalam hitungan hari dan dicat  seperti perunggu.  Akhirnya Prasasti  Prasasti yang ditanda tangani Kasau saat Peresmian Penyerahan Pesawat Cessna 401/402 tgl 8 Desember 2017 bukan Prasasti yang asli.  

Demikianlah Jejak Prasasti Sang Pengintai Cessna 401/402 penuh liku liku dan Alhamdulilah anak Walet sebagai Tim Kecil tidak mengecewakan para sesepuh dan senior dalam menyiapkan Penyerahan Pesawat Cessna 401/402 ke Museum Dirgantara di Yogyakarta (Marsda TNI Purn Tumiyo)




PESAWAT CESSNA 401/402 SEBAGAI PIONER WALET


Pada tahun 1960-an, armada pesawat angkut TNI AU terus bertambah mulai dari pesawat jenis angkut berat, sedang maupun jenis pesawat angkut ringan termasuk didalamnya pesawat Cessna 401A/402A.
Cessna 401A/402A diproduksi oleh Cessna Aircraft Company of Wichita USA pertama kali pada tahun 1966.  Pesawat yang pada saat itu tergolong canggih di kelasnya ini memiliki dua tipe yaitu tipe C-401 dan C-402.  Bermesin ganda dari pabrik Continental dengan 6 buah piston yang dilengkapi system turbo charger dan dapat menghasilkan tenaga sebesar 300 HP pada setiap mesinnya.  Pada awal tahun 1969 pesawat Cessna menjadi kekuatan TNI AU. Pengadaan pesawat Cessna 401/402 oleh Sekretariat Negara ini merupakan salah satu hasil pengadaan Renstra I yang awal penugasannya digunakan untuk Operasi PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) di Irian Barat.  Operasi ini berjalan sukses dan pada November 1969 PBB menetapkan Irian Barat resmi masuk Republik Indonesia.  

Dalam Operasi PEPERA, Cessna 401A/402A melaksanakan mobilisasi para kepala suku di Irian Barat untuk duduk dalam Dewan Musyawarh PEPERA yang dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 1969.  Disamping itu juga digunakan sebagai transportasi bagi para petugas dari PBB, negara-negara pengamat dan negara-negara peninjau. Daerah-daerah yang dijadikan sebagai tempat pemungutan suara mencakup 8 kabupaten, yaitu: Merauke, Jayawijaya, Paniai, Fakfak, Sorong, Manokwari, Biak dan Jayapura.   Setelah Operasi PEPERA, Cessna 401/402 masih digunakan di Papua untuk konsolidasi dan hubungan dengan pejabat kabupaten.   Akhir tahun 1971 konsolidasi Papua dianggap selesai dan pesawat dititipkan kepada Skadron 17 untuk angkutan VIP.

Awal Kedatangan

Tujuh pesawat Cessna yang dipesan Indonesia memiliki dua tipe yaitu C-401 sejumlah lima pesawat dan C-402 dua pesawat. Tipe C-401 dengan registrasi; A-4011, A-4012, A-4013, A-4014 dan A-4015.   Sedangkan tipe C-402 nomor registrasinya AF-4021 dan AF-4022.   Pesawat  yang digunakan sebagai angkut khusus dan latih lanjut bagi siswa Sekbang TNI AU jurusan transport ini mampu membawa 5 orang penumpang dengan kecepatan jelajah mencapai 310 km/jam (170 knots).
Untuk merealisasikan pengawakan Cessna 401A/402A di Indonesia, TNI Angkatan Udara memberangkatkan penerbang dan teknisi ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan dalam pengoperasian dan pemeliharaan pesawat Cessna 401A/402A. Dua penerbang yang dikirim ke Amerika adalah Mayor Pnb Djoko Susetyo dan Kapten Pnb Subardi.  Dua penerbang ini juga yang langsung membawa pesawat Cessna-402A ke Indonesia dengan rute yang sangat panjang.
Pesawat Cessna dengan Register AF-4021 diterbangkan oleh Kapten Pnb Subardi dan Register AF-4022 diterbangkan oleh Mayor Pnb Djoko Susetyo dengan didampingi oleh pilot dari pabriknya Cessna Aircraft Company of Wichita USA.  Pesawat diterbangkan langsung dari Wichita Kansas Amerika ke Lanud Halim Perdanakusuma selama beberapa hari dengan rute:
Wichita Kansas ke Oakland selama 8 jam
Oakland ke Hawai selama 13 jam
Hawai ke Guam selama 15 jam
Guam ke Singapore selama 16 jam
Singapore ke Halim Perdanakusuma sekitar 3 jam

Dari Singapore menuju Halim Perdanakusuma, Mayor Pnb Djoko Susetyo dan Kapten Subardi tidak lagi didampingi penerbang dari pabrikan, tetapi terbang solo. Penerbangan “ferry flight” dari USA ini tentu tidak mudah untuk jenis pesawat kecil, namun dengan fisik dan stamina yang sangat tinggi, penerbangan selama 55 (limapuluh lima) jam dapat dilaksanakan dengan baik dan pesawat mendarat dengan selamat di Lanud Halim Perdanakusuma.  Dua penerbang ini jugalah yang kemudian memberikan pelatihan kepada para penerbang lainnya di Lanud Halim Perdanakusama.

Dari Halim ke Malang

Diawal kedatanganya, Cessna 401A/402A ditempatkan di Skadron Udara 17 Linud Khusus Lanud Halim Perdanakusuma dan melaksanakan Operasi Pepera, setelah Operasi Pepera selesai dengan sukses dan Irian Barat masuk ke Indonesia, maka pesawat ini kembali ke Skadron 17 Linud Khusus. Pada tahun 1983, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Kep/22/XI/1983 tanggal 29 November 1983, tentang revitalisasi dan refungsionalisasi Skadron Udara 17 Linud Khusus, yang mengubah kekuatan pesawat di Skadron Udara 17 Linud Khusus dengan pesawat-pesawat jenis baru yang sesuai dengan fungsi dan tugas utamanya. Dan kemudian namanya disesuaikan menjadi Skadron Udara 17 VIP.    Realisasi dari perubahan tersebut, pesawat-pesawat yang tidak termasuk sebagai pesawat VIP, seperti Cessna 401A/402A, Dakota C-47, Skyvan SC-7 dan Casa C-212, tidak diparkir di hanggar Skadron 17 lagi namun diparkir disamping Skadron Udara 2, namun tetap dibawah kendali Wing 1 Halim.

Tahun 1985, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/02/I/1985 tanggal 17 Januari 1985, Skadron 4 Pengintai Darat kembali dioperasionalkandengan menyandang nama baru Skadron Udara 4 Angkut Ringan.  Semua pesawat yang semula ber-home base di Skadron Udara17 Lanud Halim Perdanakusuma, yaitu Cessna 401A/402A, Dakota C-47, Skyvan SC-7 dan Casa C-212, dipindahkan ke Lanud Abdurachman Saleh Malang menjadi kekuatan Skadron Udara 4 Angkut Ringan.    Perpindahan ke Lanud Abdurachman Saleh dipimpin oleh Mayor Pnb Suharso sebagai Komandan Skadron, dan pada 9 April 1985 pengaktifan kembali Skadron Udara 4 diresmikan oleh Kasau Marsekal TNI Sukardi melalui upacara militer di depan hanggar Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh.

Berbagai Tugas Operasi

Sejak kedatangannya, selain OPERASI PEPERA di Irian Barat, pesawat Cessna 401A/402A banyak dilibatkan dalam berbagai kegiatan, baik dalam Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP), antara lain :

Operasi Seroja.  Sejak awal pelaksanaan OPERASI SEROJA pada bulan Desember 1976 sampai dengan bulan Juli 1977 armada Cessna 401A/402A yang memiliki kemampuan foto udara telah dilibatkan dalam operasi militer untuk perang di Timor Timur.  Kemudian dilanjutkan dengan Operasi Kamdagri tosampai dengan tahun 1989.   Pesawat Cessna 401A/402A di-BKO-kan di Pangkoopskam Timor-Timur dengan tugas membantu satuan-satuan lain, baik satuan darat, laut, maupun satuan sendiri dalam melaksanakan operasi di wilayah tersebut.  Pada operasi ini, Cessna dilengkapi Camera  obligue. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan pemotretan udara dan pengintaian visual (air recognition atau air recce).  Operasi dilaksanakan diseluruh wilayah Timor-timur dengan sasaran tempat-tempat atau daerah-daerah yang di curigai sebagai tempat persembunyian Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK).   Pelaksanaan photo recce dari Lanud Bacau menggunakan High Low Low High.   High dimaksudkan adalah batas ketinggian aman dari senjata yang dimilki musuh, sedangkan Low adalah batas terbang rendah menuju daerah sasaran pada ketinggian 500 feet dengan sekali passing (single passing). Pada operasi di Timor Timur, pesawat Cessna 401A/402A menggunakan call sign “WALET” disamping melakukan pengintaian udara juga dibebani tugas menyebarkan pamflet dari pemerintah daerah di wilayah operasi.

Operasi Natuna Jaya dan Operasi Halau. Pada pertengahan tahun 1975 setelah tentara Amerika menderita kekalahan di Vietnam telah menimbulkan gelombang pengungsi rakyat Vietnam secara besar-besaran. Para pengungsi ini menggunakan perahu kecil dan tongkang melalui Laut China Selatan memasuki Laut Natuna menuju ke Indonesia. Untuk menanggulangi para pengungsi tersebut PBB melalui UNHCR telah minta kepada pemerintah Indonesia agar bersedia menanggulanginya yaitu dengan menampung sementara di Pulau Galang.  Dari pulau Galang UNHCR mengatur penyaluran mereka ke negara yang bersedia menampung secara permanen. Kegiatan ini berlangsung sekitar tiga tahun. Pada tahun 1985 gelombang pengungsi ini kembali terjadi secara terus menerus tetapi karena mereka bukan lagi korban perang maka UNHCR tidak lagi bersedia mengurusnya. Oleh karena itu Pemerintah RI juga tidak bersedia menampungnya, sehingga untuk menanggulanginya dilakukan pengusiran agar tidak memasuki wilayah NKRI. Untuk itu pada bulan September 1985 di wilayah sekitar Laut  Natuna di gelar Operasi Halau yang dibawah kendali Pangkoopsau I.  Pesawat  Cessna 401A/402A di BKO-kan di Lanud Ranai bersama-sama dengan Unit OV-10 dari Skadron Udara 3 dan SA-330 Super Puma dari Skadron Udara 8   Pada operasi ini, tugas utama pesawat Cessna 401A/402A adalah sebagai pesawat yang mengawali dari seluruh rangkaian operasi. Hasil temuan dari pengintaian udara selanjutnya akan ditindak lanjuti oleh pesawat penghalau bersenjata yaitu pesawat OV-10 Bronco.    Dalam operasi laut ini, untuk memperoleh bukti-bukti yang otentik pesawat Cessna 401A/402A dilengkapi camera oblique (EG flight) yang tujuannya untuk mendapatkan foto udara secara acktual real time.    Pengintaian udara dilaksanakan dengan ketinggian antara 2.500 sampai 500 feet dan target yang dicari berupa kapal pengungsi berupa kapal tongkang yang sarat dengan muatan manusia.    Selain memperkuat Operasi Halau, Cessna 401A/402A juga dibebani pula dengan tugas administrative yaitu mengambil gaji seluruh personel dan PNS Lanud serta Satuan Radar di Ranai dari Tanjung Pinang.

Operasi Rencong Terbang.   Pada operasi ini, Cessna 401A/402A ber-home base di Lanud Maimun Saleh di Pulau Sabang.  Operasi dimulai pada bulan Mei 1987.  Daerah pemotretan adalah wilayah Aceh Utara, Aceh Tengah, dan sepanjang pesisir pantai Utara Aceh, yang diduga sebagai tempat penyelundupan senjata-senjata dari negara tetangga serta sasaran-sasaran yang dicurigai sebagai tempat persembunyian tentara GAM.

Operasi Hujan Buatan. Selain mendukung OMP, Cessna 401A/402A dilibatkan pula dalam OMSP, seperti operasi hujan buatan yang bertujuan untuk melakukan modifikasi cuaca di beberapa wilayah Indonesia yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang atau untuk mengisi waduk-waduk dan bendung-bendung yang airnya mulai menyusut.   Operasi Hujan Buatan merupakan proyek dari Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan pertama kali dilaksanakan di Bogor, kemudian di Bandung, Solo dan Pulau Lombok.  Pada awal pelaksanaannya, Operasi Hujan Buatan disupervisi oleh Prof. DR. De Vacolt seorang ahli hujan buatan dari Thailand.

Bidang tugas lainnya yang dilaksanakan Cessna 401A/402A adalah survei lapangan menjelang Panen Raya, sebagai upaya meningkatkan hasil pertanian pemerintah pada tahun 1971 dengan melaksanakan Proyek Bimbingan Masyarakat (BIMAS). Dalam proyek ini pemerintah membantu petani dengan pupuk dan insektisida. Proyek ini diprakarsai oleh Menteri Pertanian yang pada waktu itu dijabat oleh Prof. DR. Ir. Hadi Tayeb. Guna mengetahui hasilnya maka pada setiap menjelang Panen Raya, Mentri Pertanian melakukan survai dari udara. Pesawat terbang yang digunakan adalah pesawat Cessna-401 dengan rute penerbangan dari Jakarta menyusuri daerah lumbung padi disepanjang bagian utara Pulau Jawa. Penerbangan dilakukan pada ketinggian 1.000 feet dan dilakukan secara zig-zag mulai dari daerah Bekasi sampai dengan Surabaya.

Tugas Pendidikan Penerbang.
Selama mengabdi di Angkatan Udara pesawat-pesawat Cessna 401/402 juga telah digunakan untuk mendidik dan melatih para Penerbang yang baru lulus dari pendidikan di Sekolah Penerbang Angkatan Udara di Yogyakarta. Para Penerbang baru tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu Perwira Siswa yang mengikuti Pelatihan Terbang Transisi (Transition Flight Training) dan Siswa Penerbang (umumnya masih belum jadi Perwira efektif) yang mengikuti Pelatihan Terbang Split System yaitu mereka yang masih memiliki status sebagai Siswa Sekolah Penerbang di Wing Pendidikan 01. Intensitas pendidikan penerbang dengan pesawat Cessna C-401/402 termasuk tinggi terutama setelah tahun 1977. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Penerbang yang selesai mengikuti pelatihan dan memiliki rating pesawat Cessna-401/402 selama 30 tahun mencapai 139 Penerbang.  Lebih dari separuhnya merupakan hasil pelatihan angkatan 1980 sampai dengan angkatanàq 1989. Para Penerbang ini sekarang sebagian sudah purnawira, sebagian menjadi Pejabat TNI AU termasuk bapak Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan sebagian besar telah tersebar di berbagai perusahaan penerbangan di Indonesia (perusahaan Airlines).

Lahirnya Sang “WALET”
Walet merupakan kebanggaan, kehormatan dan identitas jati diri para penerbang-penerbang Skadron Udara 4, yang mengekspresikan karakter sebagai personel yang lincah, tanggap, tanggon, dan trengginas, serta dapat saling bekerjasama secara solid sehingga mampu untuk selalu diandalkan dalam menyelesaikan setiap misi.
Walet lahir pada Desember 1985, ketika awak pesawat pengintai Cessna 401A/402A, Captain Pilot Kapten PNB Chaerudin Ray dan Co-Pilot Lettu PNB Sudipo Handoyo selesai melaksanakan misi operasi (Operasi Halau) di Kepulauan Natuna.  Sewaktu melepas lelah di pantai Natuna, mereka melihat seekor burung Walet yang terbang lincah di sekitar mereka. Mengamati burung Walet yang terbang tersebut, timbul ide Kapten Pnb Chaerudin untuk mengambil Walet sebagai “call sign” pesawat Cessna 401A/402A yang sedang bertugas.  Kemudian istilah Walet resmi dikukuhkan sebagai panggilan bagi pesawat-pesawat yang bernaung di bawah Skadron Udara 4.  Sedangkan untuk pemberian Walet Number diurut berdasarkan senioritas, namun setelah Walet 15 mengalami perubahan, walet number diberikan kepada para penerbang yang sudah menjadi captain pilot saja.

Pengabdian Pesawat Cessna-401/402,
yang pada  akhirnya tahun 1994, Cessna 401A/402A dinon-aktifkan karena kondisi pesawat yang secara teknis sudah tidak layak operasional. Untuk mewakili dari seluruh armada Cessna 401A/402A, dan untuk mengenang pengabdian pesawat tersebut, Cessna 401 dengan “tail number” A-4014 dijadikan Monumen di Lanud Abdurachman Saleh Malang.  Pengabdian Cessna 401A/402A kepada bangsa dan negara NKRI sekarang sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa, khususnya TNI AU.  

Untuk itu, sebagai penghargaan terhadap jasa-jasanya, pada bulan Juli 2017 Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P menginstruksikan agar pesawat Cessna 401 dengan tail number A-4014 direlokasi ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta dan diresmikan pada tanggal 3 Desember 2017. Harapannya adalah agar dapat menjadi benda sejarah yang akan selalu dikenang dan juga sebagai bahan pembelajaran bagi generasi penerus bangsa Indonesia sepanjang masa. (Marsda TNI Purn Tumiyo, Maret 2019)