
Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri selalu konsisten dengan yang tertuang di Pembukaan UUD 45. Dalam alinea keempat disebutkan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Bahkan sejak tahun 1957 Indonesia sudah terlibat mengirimkan Pasukan Perdamaian ke Mesir dengan sebutan Kontingen Garuda I.
Sedikit menengok Kontingen Garuda dibawah naungan PBB (Persatuan Bangsa Bangsa), sampai saat ini tercatat sampai Kontingen Garuda XXXIX. Bahkan setiap Kontingen Garuda ada beberapa Periode Pergantian. Contoh Kontingen Garuda VIII yang bertugas untuk Perdamaian Mesir Israel di tahun 1973, dari Kontingen Garuda VIII/1 sd Garuda VIII/8
Pasukan Kontingen Garuda (Konga) Indonesia, akhir-akhir ini adalah dibawah UNIFIL (United Nations Interim Forces ln Lebanon). Kontingen Garuda ini bertugas dengan Sandi Kontingen Garuda XXIII A yang bertugas sejak 2006 dan saat ini merupakan Kontingen Garuda XXIII S. Pada akhir Mei 2026, Panglima TNI telah memberangkatkan 744 prajurit baru untuk rotasi penugasan sebagai Kontingen Garuda UNIFIL, menggantikan personel sebelumnya yang kembali ke Tanah Air.
Penulis sewaktu sebagai Atase Udara di Philipine sempat di Sampul Majalah Asiaweek PhilipineDalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan Pengalaman dalam mempersiapkan dimulainya Perdamaian Konflik antara Bangsa Moro (MNLF) dan Pemerintah Philipina. Konflik berkepanjangan dan perang terbuka sejak 1969. Pemerintah Philipina sejak era Presiden Ferdinand Marcos tahun 1980 minta pemerintah Indonesia membantu menyelesaikan konflik di Philipina Selatan. Sebetulnya era Presiden Corazon Aquino ada kesepakatan dengan memberikan otonomi kepada Mindanao sebagai pusat MNLF, namun konflik juga belum reda.
Tahun 1993 Presiden Philipina Fidel Ramos kembali Indonesia menemui Presiden Soeharto untuk membantu penyelesaian konflik . Akhirnya terwujud perjanjian damai yang ditanda tangani oleh Pemerintah Philipina dan Bangsa Moro (MNLF) pada tahun 1996.
Sebelum adanya perjanjian Pemerintah Philipina dan Bangsa Moro (MNLF), Indonesia sudah mengirim Pasukan Perdamaian Kontingen Garuda XVII, walaupun bukan mandat dari PBB, namun pengiriman Pasukan Perdamaian dari Indonesia atas mandat OKI. Sampai terbitnya Perjanjian Pemerintah Philipina dan Bangsa Moro (MNLF) ada 3 Kontingen Garuda (1994 -1997) meliputi :
1. Kontingen Garuda XVII 1, dipimpin oleh Brigjen TNI Arbi
2. Kontingen Garuda XVII 2, dipimpin Brigjen TNI Kivlan Zein
3. Kontingen Garuda XVII 3, dipimpin Brigjen TNI Aqlani Masa
Setelah adanya perjanjian kedua belah pihak, pimpinan MNLF Nur Missouri yang hidup dalam pengasingan di Tripoli, sanggup kembali ke Philipina, namun minta diantar oleh pihak Indonesia. Missori dari Tripoli terbang ke Indonesua sebelum ke Philipina. Dari Indonesia Nur Missouri didampingi Menlu Ali Alatas menuju Philipina menggunakan Pesawat B 707 milik AURI. Penulis selaku Atase Udara di Philipina ikut mempersiapkan kedatangan Pesawat B 707 di Manila. Selain mempersiapkan di Manila, penulis juga mempersiapkan di General Santos, karena rute penerbangan dari Jakarta - Manila/Ron - General Santos - Jakarta. Dari Manila ke General Santos selain Pak Duta Besar, penulis sebagai Atase Udara ikut on board.
Dalam penerbangan dari Jakarta ke Manila, berjalan lancar, namun dari Manila ke General Santos pesawat mengalami trouble pneumatic. Penulis tahu kasus ini, kebetulan ditengah penerbangan penulis ke Cockpit. Penulis sempat kaget karena seluruh awak pesawat sibuk buka Manual Pesawat. Sebagai Penerbang, penulis tahu pasti ada masalah. Akhirnya Cpt Pilot jujur menjelaskan, bahwa ada trouble pneumatic, namun tidak masalah, pesawat bisa mendarat aman cuma untuk taxy harus dengan towing car.
Sebelum adanya kunjungan Menlu Ali Alatas ke General Santos, penulis adakan survey terlebih dahulu. Hasil survey di General Santos ada Towing Car untuk menarik pesawat namun kapasitas hanya untuk Boeing 737. Sedangkan untuk Boeing 707 tidak tersedia, kondisi ini penulis sampaikan kepada Cpt Pilot. Mendengarkan penjelasan penulis Cpt Pilot langsung minta confirmasi apakah ada Towing Car untuk Boeing 707 ? Dijawab Afirmatif yang berarti ada Towing Car, kebetulan komunikasi di posisi speaker, penulis bisa ikut mendengar. Dari penjelasan Cpt Pilot tidak apa-apa gunakan Towing Car Boeing 737, nanti diakali Towing Car hanya untuk steering, sedangkan power dengan dua mesin pesawat cukup, yang dua mesin dimatikan. Penulis ikuti keputusan Cpt Pilot yang menjadi tanggung jawabnya.
Saat penulis menuju ke Cockpit ternyata pak Dubes mengikuti. Pak Dubes kelihatannya punya feeling sama, melihat keanehan karena Crew masih sibuk. Penulis menjelaskan bahwa setiap Komandan Skadron kalau terbang selalu uji Crew, kalau Crew tidak bisa jawab, mereka buka manual. Sepintas Pak Dubes puas dengan Jawaban saya dan kembali ke tempat duduk. Penulis tidak cerita apa adanya, karena kalau cerita apa adanya pak Dubes bisa panik.
Sebelum Pesawat B 707 Angkatan Udara Republik Indonesia mendarat di General Santos, Presiden Fidel Ramos sudah mendarat duluan dengan Air Force One Piliphine Air Force. Pesawat B 707 AURI mendarat dengan mulus dan berhenti di ujung landasan, menuju tempat parkir ditarik dengan towing car. Setelah smua penumpang turun awak pesawat mulai mengadakan perbaikan pesawat. Penulis sebagai Atase Udara tidak ikuti prosesi penyambutan Nur Missouri di Bandara tapi monitor hasil perbaikan pesawat. Dari hasil pemeriksaan ternyata ada pipa yang pecah dan harus dikirim sparepartnya.
Penulis bekerjasama dengan Cpt Pilot, tentunya Cpt Pilot lapor ke Jakarta dan minta pesawat pengganti untuk membawa Menlu dan Rombongan menjemput ke General Santos. Kembali menemui masalah, ternyata Bandara General Santos belum dilengkapi fasilitas terbang malam. Satu satunya jalan adalah Menlu dan Rombongan harus diantar Pesawat Philipina ke Manado.
Penulis memberanikan diri menyarankan kepada Dubes untuk meminjam Pesawat Philipina yang ada untuk mengantar mengantar Menlu dan Rombongan ke Manado.
Pesawat F 28, merupakan Airforce One Negara Philipina saat ituMungkin karena pihak Indonesia sudah mengantar Nur Missouri dengan B 707, akhirnya Presiden Fidel Ramos mengijinkan Pesawat Air Force One Philippine mengantar Menlu dan Rombongan ke Menado. Presiden Fidel Ramos sendiri kembali ke Manila dengan Piliphine Air Lines. Beruntung Penulis sebelum sebagai Atase Pertahanan pernah dinas di Mabes Abri mengurusi Flight Clearance untuk pesawat yang akan masuk Indonesia. Dengan gerak cepat penulis hubungi Staf Operasi Mabes ABRI minta bon no flight clearance untuk Pesawat Philipina yang akan ke Manado. Semua serba kebetulan penulis sudah kenal Cpt Pilot Air Force One Philippine sebagai teman golf di Manila.
Saat penulis sampaikan kepada Capt Pilot Air Force One Philippine, mereka sampaikan tidak punya persiapan, untuk refuel di Manado serta belum sempat urus flight clearance untuk masuk Indonesia. Penulis sampaikan semua sudah beres, termasuk flight clearance sudah ada nomornya serta masalah re fuel akan ditanggung Indonesia. Penulis tidak ikut ke Manado tapi mengurusi Crew Pesawat cari Penginapan di General Santos. Sebelum Pesawat menuju Manado saya mohon ke Pak Dubes untuk tangani Crew Pesawat Airforce One Philippine, dan menunggu spare part dari Jakarta.
Alhamdulillah semua misi Accomplish, Pesawat Air Force One Philippine malam itu kembali dari Manado lewat Davao menurunkan sparepart yang sudah ditunggu oleh Pbu Athan yang bertugas di Davao. Malam itu juga sparepart langsung dikirim ke General Santos yg perlu perjalanan darat 4 jam dari Davao. Paginya sparepart dipasang dan Pesawat langsung kembali ke Jakarta mendarat dengan selamat.
Sekembali ke Manila, saya undang Cpt Pilot Pesawat Air Force One Philippine untuk golf sebagai ungkapan terima kasih. Ternyata Crew Air Force One malah ucapkan terima kasih karena Pak Dubes luar biasa perhatiannya. Mereka cerita dibelikan oleh oleh ciri khas Manado, sambil nunggu Pesawat dari Jakarta diajak shopping di Manado dan diberi uang saku yang lumayan untuk ukuran mereka. Ternyata Pak Dubes berikan uang saku 5.000 Dollar, bahkan Crew sambil bercanda sering saja gunakan pesawat Philippine Air Force. Ini pengalaman tidak terlupakan dan mungkin satu satunya Dubes yang berani pinjam Pesawat Air Force One di Negara setempat adalah Dubes RI di Manila.(Marsda TNI Purn Tumiyo/Mantan Atase Udara di Philipina 1994-1997)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar